Antara Aturan Keselamatan Berkendara dan Keterbatasan Masyarakat

Pagi pagi buka komputer kantor, tertarik dengan salah satu tulisan blogger dari Sulawesi Selatan. Beliau menghadapi kondisi dilema dalam berlalu lintas saat harus mengantar jemput anak dan keponakannya ke sekolah. Di satu sisi, beliau paham betul tentang aturan bahwa sepeda motor hanya boleh di naiki 2 orang. Namun di sisi lain, beliau tidak tega membiarkan anak dan keponakannya yang masih berusia 3 – 4 tahun harus berjalan kaki sejauh 1 km untuk bisa berangkat sekolah atau pulang. Pilihan lain ada pada transportasi umum jenis ojek dan becak. Jika bicara ojek, ya sama saja.. judulnya juga sepeda motor.  Maka kemungkinan pilihan ada pada becak. Namun ini kadang juga ini membuat orang tua merasa tidak nyaman menitipkan anaknya kepada orang lain. Maka atas dasar pertimbangan, dan karena memang tidak memiliki pilihan lain, akhirnya beliau memilih untuk mengantarkan anak dan keponakannya sendirian menggunakan sepeda motor.

Baca lebih lanjut

Iklan

(SnapShoot) Bajaj Berbulu Angkot.. Atau Kebalik Yha?

Memiliki tubuh sebesar angkot KAB (Kendaraan Angkutan Bogor), namun membuat polusi layaknya Bajaj 2 tak. Bedanya, yang satu bewarna orange dan yang satu berwarna biru. Beda lainnya, yang biru ini nggak mengeluarkan suara tronggg tonggg preett toongggg!! (*)

Kota Carut Marut

Saya sudah tinggal di Pamulang sejak 1998. Yang kini menjadi pusat pemerintahan Tangerang Selatan. Banyak perubahan yang saya saksikan. Salah satunya pembangunan Universitas, rumah sakit sampai pusat perbelanjaan.

Sejak saya bertempat tinggal di Pamulang, saya sering melintasi Ciputat untuk hampir semua aktivitas saya. Ciputat adalah salah satu jalan akses dari Tangerang Selatan menuju Jakarta, selain Pondok Cabe. Disini pun saya menyaksikan banyak perubahan. Salah satunya pembangunan fly over yang dirasa tidak membantu mengatasasi kemacetan.

Ciputat Masa Kini

Ciputat Masa Kini

Baca lebih lanjut