Turing Kecil Ke Sukabumi Dengan Kewaspadaan Ekstra

Bersiap pulang ke Jakarta

Akhirnya, setelah sekian lama, Sabtu subuh kemarin saya memulai perjalanan turing kecil saya ke Sukabumi. Ya, memang bukan perjalanan turing luar biasa. Hanya turing kecil untuk menghilangkan dahaga turing saya.

Kenapa Sukabumi? dari seminggu yang lalu, anak dan istri saya sudah duluan pergi ke Sukabumi karena istri harus mengurus surat pindah dan membuat SKCK untuk kepindahannya tersebut. Lalu, karena saya harus bekerja, akhirnya Sabtu kemarin baru saya bisa menyusul ke Sukabumi. Baca lebih lanjut

Iklan

Pihak Motorplus Janji Tindak Lanjuti Artikel Seruntulan

Tak lama setelah artikel saya, Mas Ardy, Mas Benny dan Mas Mitra keluar dan terpampang di twitter. Twit tentang artikel itu ternyata di mention oleh Mas Nadhi @alonrider kepada Agus Zoelis Triyono, seorang jurnalis sekaligus founder Otomotifnet.com. Mas Agus @AZoelis berjanji akan langsung menindaklanjuti keluhan rekan-rekan blogger dan penggiat keselamatan jalan kepada pihak terkait.

Tanggapan @alonrider tentang artiekl tersebut dan di mention kepada Mas Agus @AZoelis

Mas Agus @AZoelis

Semoga pihak Motorplus belajar dari semua ini dan lebih mengawasi para jurnalisnya dalam menulis sebelum mengeluarkan edisi demi mencerdaskan pembaca dan pengguna jalan. Dan jargon keselamatan jalan yang selalu di dengungkan bukan menjadi angin lalu semata. (*)

Media Kampanyekan Road Safety sekaligus Promosikan Balap Liar dan Gaya Alay

Tabloid Motorplus. Foto : http://blognyamitra.wordpress.com/

Bukan sekali ini saja terjadi. Jika dulu salah satu media otomotif besar tersandung karena twit-nya. Kini media otomotif lain-nya pun melakukan hal yang sama. Walau bukan melalui media sosial, tapi dalam  artikelnya sendiri. Yang saya sesali adalah fakta bahwa media itu juga mengkampanye-kan keselamatan jalan melalui tag di ujung halaman-nya. Youth Action for Road Safety 2012. Baca lebih lanjut

Twit Lucu Dari @bikers_alay

Siang-siang buka Twitter, ada yang baru dan lucu disana. Namanya @bikers_alay. Isi twitnya berupa lelucon, humor, sindiran seputar pengguna jalan sampai fenomena bikers alay di Indonesia. Bahkan terkadang ada tips bagaimana menjadi ‘alay yang disayang masyarakat’. Lumayanlah bisa bikin senyum-senyum sendiri. Saya coba copas beberapa twit yang bikin saya tersenyum.

– @bikers_alay : Aku dibeliin Ninja250 sama papaku | Wih.. keren donk? | Iya.. ini aku mau ke bengkel beli oli samping.. | -_-” #bikersalay

– @bikers_alay : Katanya pembalap yang namanya Simonceli meninggal ya? | Pembalap apa tuh? | Katanya bebek underbone 110cc | Ooo.. Kasian.. #bikersalay

– @bikers_alay : Katanya pabrik motor yg itu sukses jual motor banyak ya? | Iya | Bagus deh | Kenapa? | Jualan ban kecilku makin laku.. #bikersalay#bankecil

– @bikers_alay : Polisi1: Ad yg melanggar tuh, ayo ditindak *sambil nunjuk pemotor* | Polisi2: Siap!.. Cover Me!! | Polisi1: Fire in the holeee!! #korbangame

– @bikers_alay : Polisi: Kenapa bapak melanggar lampu merah? | bapak: ehmm.. anu.. itu.. | Polisi: Stop!! Hentikan semua sandiwara ini!!! #korbansinetron

– @bikers_apay : Polisi: Mbak saya tilang | Mbak: Bunuh aja saya sekalian pak.. Bunuh!! #korbansinetron #bikersalay

Tertarik? Follow aja @bikers_alay .. Hiburan ringan melalui Twitter.. (*)

Ini Dia Akibatnya Jika Alay Memegang Motor Mahal

Sumber foto : http://azizyhoree.wordpress.com/

Silahkan komentari sendiri hasil karya manusia manusia yang tidak mengerti esensi dari sebuah motorsport.. (*)

Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.

Pernah dengar pepatah tersebut? pasti sering. Pepatah ini bermaksud menjelaskan bahwa kemanapun kita pergi, kita wajib menghormati dan memahami budaya setempat. Termasuk saat berkendara. Namun pepatah ini tampaknya sekarang sudah luntur. Atau lebih parahnya lagi, hanya berlaku sepihak.

alay?

Sepihak? ya! Indonesia pada dasarnya memiliki budaya saling menghormati. Itu yang saya pelajari ketika SD. Namun seiring berjalannya waktu, saya kini lebih memahami bahwa untuk sebagian orang di negara ini bukan budaya menghormati yang berkembang, namun budaya gila hormat. Lha? Baca lebih lanjut