Riding 70 km Lebih Dengan Suzuki Satria F150. Bagaimana Rasanya?

Baiklah. Ini adalah pengalaman pertama saya mengendarai Suzuki Satria F150 dengan jarak lebih dari 70 km. Karena biasanya saya berkendara tak lebih dari 4 – 5 km sehari. Bagaimana rasanya? Pokoknya WOW!

BERANGKAT

Awal rencana perjalanan saya adalah berangkat dari kantor yang berada di Pamulang, Tangerang Selatan ke tempat klient yang berada di Taman Permata Buana, Jakarta Barat. Namun saat hendak berangkat, kakak ipar saya menelpon dan meminta tolong untuk mengantarkan dokumen BPJS ke daerah BSD. Jadilah, rute saya berubah dari Pamulang – BSD – Jakarta Barat.

Rute yang saya pilih untuk berangkat adalah Pamulang – Ciputat – Lebak Bulus – Pondok Indah – Permata Hijau – Jalan Panjang – Meruya Ilir – Pesanggrahan – Puri Indah. Sengaja saya memilih jalur ini karena saya berfikir jalan ini akan agak lengang pada siang hari. Dan betul saja, jalanan memang agak lengang kecuali di Ciputat depan UIN dan Arteri Pondok Indah.

Dengan kondisi jalan lengang, saya bisa konstan menarik gas antara 60 – 70 km/jam dan terkadang saya agak nakal juga dan sedikit menaikkan kecepatan untuk merasakan akselerasi motor ini. Dan Pondok Indah mulai dari bundaran sampai PIM adalah jalur yang enak untuk sedikit nakal karena di jalur ini tidak ada putaran balik atau jalan masuk ke perumahan karena semua jalur diportal. Posisi agak menunduk motor ini memang secara psikologis membuat darah agak panas he..he..he.. Memang, posisi riding ini sangat pas untuk ngebut.

Ketika jalan mulai agak tersendat setelah underpass Pondok Indah sampai pertigaan Bungur, masalah mulai datang. Saya yang memang belum terbiasa menggunakan motor ‘menunduk’ mulai merasakan keram di tangan kanan. Memang saya pahami, tumpuan badan saat mengendarai Satria berada di tangan, tidak seperti Thunder 125 saya atau Mio J milik istri saya. Dan akhirnya saya menyerah di arteri Pondok Indah dan memilih untuk istirahat sejenak sambil ngopi. Jujur, tangan saya keram dan sakit. Norak ya? hahaha. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan tanpa masalah berarti. Kecuali tangan saya yang agak keram dan pegal.

PULANG

Rute perjalanan pulang saya memilih jalur yang berbeda. Karena saya berfikir, Jalan Panjang dan Lebak Bulus pasti akan macet parah saat jam pulang kantor. Maka itu saya memilih lewat Meruya – Ciledug – Bintaro. Namun sial, ternyata sama saja. Macet.

Terus terang saya tersiksa di jalur ini. Selain tangan kumat lagi keramnya, pantat juga agak sakit karena jok Satria yang kecil. Belum lagi kaki yang juga agak pegal karena posisi footstep Satria agak kebelakang sehingga kaki agak menekuk. Jelas berbeda dengan mengendarai Mio J dimana kaki tegak lurus kebawah.

Kemudian Satria F150 bukanlah motor yang enak diajak jalan pelan dikemacetan atau istilahnya stop ‘n go berulang ulang. Saya pernah memiliki Suzuki Smash yang sudah di bubut noken as-nya dan juga sudah oversize. Motor tersebut seperti memiliki tenaga tertahan atau seperti ‘brebet’ di kecepatan rendah.. entah apa istilahnya.. Dan itu saya rasakan juga di Satria F150 ini. Saat jalan merayap di kemacetan, sungguh tidak nyaman mengendarai motor ini. Berkali kali saya di posisi gigi 1 atau 2 harus menarik kopling dan atau sesekali menahan setengah koplingnya.

KESIMPULAN

Kesimpulan saya yang berperut buncit, berusia 33 tahun dan baru pertamakali mereview sepeda motor plus belum pernah mengendarai motor bertenaga besar, Suzuki Satria F150 bukanlah motor yang nyaman untuk harian. Tenaganya yang terlalu besar bukanlah mesin yang nyaman diajak melintasi kemacetan. Maka dari itu Suzuki menyebutnya ‘Hyper Underbone’.

Selain itu, posisi riding menunduk ala racing juga cukup menyikas bagi yang belum terbiasa dengan motor ala racing. Posisi riding yang bertimpu pada tangan bisa menyebabkan keram atau kesemutan. Tak hanya tangan, pantat, pinggang, dan betis juga merasakan hal yang sama.

Namun saya akui, tenaga dan akselerasi motor ini tak main main. Di jalur lurus, motor ini dapat dengan mudah mencapai kecepatan 80-90km/jam dalam waktu singkat dengan stabil tanpa goyang/libung. Padahal dengan kapasitas mesin seperti itu, tubuh satria F150 tergolong kecil. Entahlah jika saya mencoba menggeber hingga 120km/jam.

Demikian ulasan singkat saya ala test rider amatiran. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s