Sudah Matikah Empati Di Negeri Ini?

Sumber Foto : Merdeka.com

Sumber Foto : Merdeka.com

Beberapa hari lalu, hati saya ngilu karena membaca sebuah berita di media on-line nasional dimana seorang penyandang disabilitas terpaksa duduk di lantai kereta karena kursi yang seharusnya di peruntukkan untuk mereka diduduki oleh orang yang sehat jasmani.

Edan! Bagaimana bisa ada manusia.. ya.. manusia.. bukan binatang tentunya.. yang tega melihat seorang cacat duduk di lantai kereta  dengan merampas hak mereka untuk duduk di bangku prioritas. Bukankah negara kita negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan negara biadab kan?!

Jujur saja, hal ini semakin menyulut emosi saya. Setiap hari saat berkendara, sudah sering kali saya melihat prilaku pengendara yang berkendara bak binatang tak bernurani. Pernah sekali seorang anak kampung dengan motor kampungannya yang ber-ban kecil nyaris menyerempet ibu-ibu tua yang sedang menyebarang. Padahal saya yakin, dikejauhan dia sudah melihat ibu ini sedang menyebarang. Namun karena haram baginya menurunkan gas, nekat saja bocah keparat ini menaikan gas memotong jalan si ibu dan nyaris menyerempetnya. Ini baru satu contoh saja. Masih banyak contoh manusia tanpa nurani dijalanan republik ini.

Ketika SMA, saya selalu menggunakan PATAS AC 76 Jurusan Ciputat – Senen. Setiap pagi bis itu selalu sesak. Tak jarang orang tua atau ibu hamil naik bus itu dan berdiri. Tapi jika saya melihat mereka, saya selalu akan memberikan mereka tempat duduk. Maaf, bukan karena saya jagoan atau sok pahlawan biar orang bilang saya hebat. Ada dua alasan saya selalu melakukan itu. Pertama, saya membayangkan itu adalah ibu saya. Saya berharap, dimanapun keluarga saya berada, orang akan selalu berlaku baik kepada keluarga saya. Kedua, saya selalu memimpikan republik yang indah, dan damai. Karena saya begitu mencintai republik ini. Maka dari itu, ada satu kalimat yang diberikan senior saya ketika saya masih menjadi anggota Paskibra dan saya cam kan itu hingga saat ini. “Jika kamu mau negara ini lebih baik. Mulailah dari diri kamu sendiri.”

Persetan jika anda teriak bahwa Israel atau Korea Utara itu biadab. Lihat ke diri kita masing-masing. Tidakkah kita sama biadabnya dengan mereka? Kurang biadab apa kita jika ada ibu hamil atau orang cacat anda rampas haknya untuk duduk di bangku prioritas. Atau saat ada lansia menyebrang jalan, anda potong jalurnya dan nyaris mencelakakannya. Ini sama biadabnya dengan tentara Israel yang merampas kebahagian anak anak Palestina! Persetan jika anda menunjuk politikus A atau B adalah koruptor. Persetan jika anda menunjuk FPI adalah bajingan. Karena kita tak lebih baik dari mereka. Kita lebih buruk dari mereka. Bahkan lebih buruk dari anjing sekalipun.

Sempat saya baca juga berita lama tentang kampanye yang mengajak masyarakat untuk memproritaskan tempat duduk bagi lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas. Kasihan, mereka harus mengemis atas tempat duduk yang memang seharusnya menjadi hak mereka. Sebuah salah kaprah besar di negara ini. Namun acungan jempol bagi penggiat kampanye ini. Mereka terus memperjuangkan hak mereka.

5152803_20140312020132

Sumber Foto : Merdeka.com

Maaf jika ucapan saya melalui tulisan ini kasar. Ini adalah luapan emosi saya yang sudah lama saya pendam. Saya sedih melihat bangsa ini. Melalui tulisan saya yang terbakar emosi malam ini. Saya hanya ingin mengajak anda untuk sedikit berempati. Berbaik hati dengan orang lain. Permurah senyum. Agar negara yang lebih baik bisa terwujud seperti yang kita inginkan. Bukan sekedar koar-koar di media sosial.

Semoga Allah selalu melindungi kita. Aamiin. (*)

—————————-

Catatan :

Terimakasih kepada pembaca blog ini atas saran dan kritiknya. Saya mengakui bahwa saat memasukkan foto ke dalam artikel ini saya tidak memperhatikan materi foto tersebut. Memang benar foto tersebut tidak terjadi di Indonesia melainkan di Malaysia. Karena hal itu pula saya melakukan sedikit perubahan pada paragraf ke-2 agar tidak terjadi kesimpangsiur-an informasi pada artikel.

Walau begitu, hal ini tidak merubah sedikitpun pandangan saya tentang banyaknya manusia di Indonesia yang sudah kehilangan empati. Namun tentunya saya yakin, para pembaca artikel adalah orang yang memiliki empati dan penuh kasih sayang.

Semoga Allah selalu bersama kita.

Iklan

145 thoughts on “Sudah Matikah Empati Di Negeri Ini?

    • wow, foto-fotonya cukup mengundang emosi nih, paling enak tuh di bisa pas kita berdiri tapi sopirnya juga ngeblong tp tetep hati2, jadi ga kelamaan berdirinya, paling ga enak, kita berdiri tapi sopirnya leda lede, dah panas sumpek pula

    • Itu mereka yg duduk gue yakin bener, mereka itu kgk paham… Baru 1-3x naek kreta… Hahahahaha… Harusnya ada penyuluhan dari pemerintah di iklan tv..

  1. yaa..memang harus dari diri sendiri dulu untuk memulai itu semua. Cuma negara maju yg bisa mem prioritas kan semua ketentuan yg ada walau tidak semua,tapi setidak nya mempunyai kesadaran untuk mem berikan hak prioritas yg ada. salam PASBARATHA 2000-2003

  2. biadab memang…padahal dulu disekolah diajarkan budi pekerti, mungkin sekolah sekarang tidak.kejadian seperti ini sering terjadi dikota kota besar biasanya, yg mana manusianya sdh tdk perduli sesama, egois. nilai nilai luhur bangsa ini yg dulu pernah saya rasakan sudah langka. seperti contoh, jaman “dulu” jika orang menemukan paku or batu dijalan akan segera disingkirkan agar tak mencelakai orang lain tapi jaman “sekarang” apa yg terjadi? justru mereka sengaja meletakan paku or batu dijalan agar menguntungkan mereka, tdk peduli org lain celaka.sungguh biadab…

    • Diajarin kok. Tapi ya seperti yang dibilang Sigit di atas. Cuma nilai akademis yang dilihat. Apakah anak memahami dan bisa meneladani sih, saaangat banyak orang tua dan guru yang sebodo amat (saya tulis orang tua duluan karena beliau lah yang pengaruhnya paling besar).

  3. kenapa kok gambarnya dari gambar Malaysia mas? Ada tulisan “Zon Keutamaan” . Intinya, empati di negara Indonesia masi ada kok.. Orang Indonesia masih dikenal dengan orang2 yang ramah, berbudi dan santun. Contoh dari artikel itu hanya contoh dari segelintir orang yang kurang berempati, dan di negara mana pun, segelintir orang itu ada. Namun, kampanye “Jangan biarkan kami berdiri” adalah kampanye yang bagus buat selalu mengingatkan kalau kita adalah bangsa yang ber-akhlak dan bermartabat tinggi. Salam Indonesia baru!

    • Segelintir? Yah … Di desa, mungkin segelintir. Di kota besar seperti Jakarta, mereka mayoritas. Baik yang merampas hak orang lain seperti di atas, maupun yang tidak peduli dan pura-pura ga tau karena males ribet berurusan dengan orang lain. Dua-duanya sama-sama salah.

      • yap, anda memang orang yg paling benar sedunia dan akherat.. sendiri!!…. yang lain salah

  4. Setuju dengan pesan moral dari artikel ini. Tapi 2 gambar yang bersumber dari Kaskus itu adalah gambar dari dalam monorail di KL, perhatikan amaran/tulisan ‘Zon Keutamaan’ dan alamat email iklan di bagian atas ‘www.epson.com.my’, dan terutama yang familiar dengan monorail di KL pasti tau dengan jendela yang besar dan partisi mika serta lantai biru-nya.

  5. ƗƗα​‎​ƗƗα​​‎​ƗƗαƗƗα.. Sejak saya hamil sampe punya anak gendong2 anak tiap ke suatu tempat yg tempat duduknya penuh entah itu stasiun, bandara, tempat servis hp ga ada tu org yg duduk mempersilahkan saya duduk..
    Padahal gendong anak beratnya ampun.. Pernah saya sampe berdiri 1jam sambil gendong anak nunggu antrian servis hp ya.. Phew..

  6. Mungkin mereka yang duduk di seat khusus penyandang disabilitas diatas memang penyandang disabilitas juga, disabilitas hati.

    Mungkin mereka yang duduk di seat khusus ibu hamil diatas memang beneran hamil dan gendong juga, hamil hatinya sehingga bengkak dan tak ada ruang untuk rasa kemanusiaan.

    😦

  7. yg foto kedua sepertinya bukan di krl jakarta karena saya setiap hari naik krl. sepertinya itu krl negara tetangga sebelah.

    however, saya juga paling jijik kalo liat manusia-manusia gak tahu diri yg pura-pura bego nggak liat orang tua atau ibu hamil dan duduk manis sambil otak-atik gadget.

  8. Saya pernah menyaksikan kejadian yg lucu di bus, seorang pria bilang ke pria yg duduk di belakang sy. “Maaf Mas, istri saya lagi sakit, boleh duduk?” Penumpang di belakang saya mepersilahkan. Anehnya, si istri yg sakit suami jg ikut duduk jd penumpang sebelumnya tdk kebagian duduk. Lebih aneh lagi, setelah duduk si istri cerah ceria, sperti bukan org sakit. Aneh!!!

  9. Hehehe,,begitulah,,sya pnh ke KL n singapore,jika yg mnempati kursi prioritas adlh org indonesia, sya hampir slalu tdk dipersilahkan duduk,,pdhl lg gendong anak,,tp klo org KL atau SG psti lgs sgera brdiri,,:-(

  10. Yoi mas bero. Ane g pnh nae KRL. Lebih sering pk busway. Kadang” yg nyolot tuh anak pacaran, atau bapak” yg duduk d gerbong wanita. kalo di kursi ptiority, kdg meskipun buta, orang” pd ga peduli. Sampe kondekturnya tereak” minta ganti juga ga digubris.akhirnya ditepok deh itu pundak baru dia pindah. Ane sering nyesek liatnya tapi ane sendiri ngga berani negor.. soalnya pernah negor trus orangnya cuek abis.. sebelah jg ngga ada yg ngedukung. yampun jd sebel sendiri.. 😥 kecuali klo ane yg lg duduk, baru ane berdiri kasi tempat ke yang lebih butuh.. ya Allah, balikkanlah hati mereka yang sudah mati..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s