Hikmah Dibalik Kepergian Sahabat

Foto terakhir bersama Almarhum

Tidak banyak pasti yang membaca blog ini yang mengenal dia. Dia, yang biasa saya panggil Asep adalah pegawai di kantor tempat saya bekerja. Tepatnya dia adalah asisten fotografer. Namun sudah 1 tahun sejak Maret 2011 dia tidak lagi bekerja di kantor saya. Dia berhenti bekerja sejak kondisi tubuhnya menurun dan dokter mem-vonisnya mengidap Leukimia. Penyakit yang tidak main main. Segala pengobatan sudah dilakukan. Dan akhirnya, beberapa minggu lalu Ia akhirnya harus di rawat di RS. Fatmawati.

Karena kesibukan saya, saya tidak pernah menjenguknya. Sampai akhirnya pada tanggal 6 Februari 2012 lalu, saya bersama teman-teman kantor memutuskan untuk menjenguknya. Kami-pun menyempatkan diri berfoto bersama dia, walau dia dalam kondisi yang menyedihkan. Namun siapa sangka, bahwa pertemuan dan foto itu adalah terakhir kalinya. Karena pada hari Kamis, 9 Februari lalu, saya mendapatkan SMS dari rekan saya di kantor.

Innalillahi wa inaillaihi rajjiun.  Telah berpulang ke Rahmatullah, sahabat kita, saudara kita, rekan kerja kita, Asep, tadi pagi pukul 06.45.

SMS itu  benar-benar mengejutkan saya. Karena baru saja 3 hari lalu kami menjenguknya. Tiba tiba saya teringat dengan apa yang saya bisik-kan kepada almarhum ketika kami pamit setelah menjenguknya. “”Banyak dzikir ya Sep.. Minta sama Allah kesembuhan.. Minta sama Allah yang terbaik buat lo..” .

Begitu banyak kenangan antara saya dan almarhum. Salah satunya yang paling saya ingat adalah ketika saya masih bujang dan sering lembur di kantor. Almarhum sering memasakkan saya Nasi Goreng yang rasanya persis seperti yang ibu saya buat. Dia juga sering kali menanyakan rute jalan pada saya ketika harus mengantarkan CD atau surat pada klient.

Hufff.. begitu banyak pelajaran yang saya petik dari kepergian Asep. Bahwa kita tidak pernah tahu kapan kita akan di panggil oleh-Nya. Selain itu, saya sangat kagum dengan ibunya yang tidak pernah menyerah setahun ini mencari cara  untuk menyembuhkan Asep. Mulai dari mengantar ke RS Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo, RS Bogor sampai akhirnya ke RS Fatmawati. Belum lagi mondar mandir mengantar almarhum cek up sampai mengurus surat surat agar mendapat keringanan biaya Rumah Sakit. Pernah suatu ketika sang ibu terjatuh dari kereta ketika hendak mengambil surat-surat yang tertinggal di stasiun. Namun sang ibu tak sedikit-pun menyerah. Dan selama almarhum dirawat di rumah sakit, tak seharipun sang ibu meninggalkannya. Dengan setia sang ibu terus merawat anaknya yang sakit. Itulah jasa sang ibu yang tak akan lekang dimakan jaman.

Sudahlah.. kini saya hanya bisa berdoa. Semoga almarhum di ampuni segala dosanya dan diberikan tempat terbaik oleh Yang Kuasa. Amin.. Dan bagi saya yang masi diberi kesempatan untuk bernafas, semoga bisa memetik hikmah dari ini semua. Amin.

Selamat jalan Sahabat.. (*)

 

Iklan

5 thoughts on “Hikmah Dibalik Kepergian Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s