Belajar Dari Tragedi Tugu Tani : Jangan Kambinghitam-kan Tuhan

Kecelakaan yang menimpa Afriani dan menewaskan 9 orang memang sempat menghebohkan. Menurut informasi yangs aya dapatkan melalu media, Afriani memang positif menggunakan narkoba sebelum mengendarai Daihatsu Xenia.

Pagi ini sebelum memulai pekerjaan kantor, saya di suguhkan link berita oleh rekan saya di milis RSA. Link tersebut adalah berita dari Kompas.com yang berjudul “Kronologi Kecelakaan Maut Versi Afriani”. Setelah membaca, saya tergelitik oleh sebuah pernyataan Afriani di ujung artikel tersebut.

[Baca Berita Sebelumnya]

…….Melihat kondisi itu, Afriyani panik dan langsung menghubungi ibunya, Yurneli, dan memberitahukan bahwa dirinya telah menabrak orang hingga tewas. Adapun  teman-teman Afriyani yang ada di dalam mobil itu tidak mengetahui proses terjadinya kecelakaan karena dalam kondisi terlelap. “Afriyani sudah pasrah. Dia menyebutnya ini takdir Tuhan,” kata Efrizal.

Kalimat paling akhir membuat saya sedikit merasa aneh. Afriani yang terbukti mengkonsumsi narkoba dan akhirnya membunuh 9 orang mau menyangkal bahwa ini adalah keinginan Tuhan?. Memang, semua manusia tak luput dari kesalahan. Termasuk saya sendiri sebagai manusia. Namun, sungguh tak layak jika kita mengkambing-hitamkan Tuhan dalam setiap kesalahan kita.

Menurut saya, jalan hidup yang kita pilih adalah kehendak kita sendiri. Tuhan Sang Pencipta hanya memberikan ‘kekuasaan penuh‘ terhadap diri kita sendiri. Begitu juga dengan Afriani. Bagaimana bisa, setelah dia berpesta narkoba dan membunuh orang banyak, dia menganggap ini keinginan Tuhan? Bukankan apa yang dia lakukan adalah pilihannya sendiri? Afriani-lah yang membuat dirinya sendiri tercebur dalam masalah yang ia datangkan sendiri. Jelas bukan kehendak Tuhan dirinya bermaksiat dan membunuh orang. Kita mau rajin bersujud kepada Tuhan atau bermaksiat bersama setan, itu adalah pilihan. Tinggal dipertanggung jawabkan di hari akhir.

… barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir… (Al Kahfi / QS. 18:29)

Peng-kambing-hitaman Tuhan sering kali di ucapkan oleh orang sekitar kita. Dulu saya pernah melayat ketika teman saya meninggal dunia. Saya tidak terlalu kenal dengan almarhum, namun setahu saya, almarhum tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Almarhum tewas ketika trek-trekan di daerah Serpong. Motor yang digunakannya menyenggol motor lawannya. Ia jatuh dan menghajar angkot dari arah berlawanan. Setelah melayat, saya menyempatkan ngobrol dengan salah satu keluarga korban. Di ujung pembicaraan, keluarga korban yang ngobrol dengan saya menutup obrolan dengan kalimat, ‘ini takdir Tuhan’.

Sepanjang perjalanan pulang, saya memikirkan kalimat tersebut. Apakah ini benar takdir Tuhan? Bukankah Ia tewas atas ke inginannya sendiri? Seandainya Ia memilih kegiatan lain, mungkin hari ini Ia masih ada.

Sama seperti bencana alam. Tak semua bencana adalah takdir Tuhan. Lihatlah kasus banjir. Beberapa kasus banjir disebakan penebangan hutan sembarangan, membuang sampah sembarangan dan lainnya. Apakah ini kehendak Tuhan juga? Bukankah itu karena perbuatan manusia?

Kembali ke Tugu Tani. Jika kita bicara takdir, sepantasnya keluarga korban Tragedi  Tugu Tani-lah yang mengucapkannya. Mereka dengan niat hati ingin rekreasi dan sudah taat aturan berjalan di trotoar dan menunggu angkutan di halte bus, ternyata harus mengalami musibah dan tewas seketika.

Berbicara tentang takdir Tuhan, saya masih akan terus belajar tentang ini. Namun saya menyimpulkan, bahwa Tuhan telah menyediakan semua yang saya butuhkan di dunia ini. Termasuk tubuh dan otak saya dengan teknologi yang luar biasa canggih yang Tuhan ciptakan. Namun, sayalah yang memutuskan, mau digunakan untuk apa tubuh dan otak saya? Hasil apa yang ingin saya capai dengan 2 alat berteknologi tinggi ini?

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar Ra’d / QS. 13:11)

Namun, karena kita hanyalah manusia lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka kita diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidup dan pastinya dengan beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidup, kita juga diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati. (*)

Iklan

15 thoughts on “Belajar Dari Tragedi Tugu Tani : Jangan Kambinghitam-kan Tuhan

  1. jadi ingat lagu Desi (Bedhes menek Kursi) Ratnasari yang judul lagunya Takdir Memang Kejam …
    lagu ora mutuuuu…
    mending ndengerin Sekedar Bertanya dari Dina Mariana

  2. Takdir itu ga bs dirubah.
    Orang ga bs mengelak dari kematian.

    Tapi nasib bisa dirubah.
    Karena ga bs mengelak dari kematian, plg tidak kita bs ‘memilih’ cara untuk mati.

    Mau mati ‘berantakan’ di jalan atau dikelilingi orang2 tercinta.

    CMIIW 🙂

  3. Kalo bencana alam kek Gunung Meletus, Gempa Bumi, Ketiban Meteor, Tsunami, nah itu emang takdir Tuhan. Tapi ini di tabrak mobil sama orang fly… Yah mungkin, buat yang kena tabrak, yah nasib… Tapi buat yang nabrak? Takdir? Ampun deh, udah make obat aja masih bilang takdir.

    Btw, kenapa cuman bencana alam di atas doank yang masuk kategori takdir aja, soalnya kalo kayak banjir, kebakaran or yang lain itu masih ada fator manusia-nya. So tetep, jangan semua di salahin ke Yang Di Atas, kasih dia yang udah ciptain kita tapi suka di salahin sama kita.

  4. wuih ni pembahasannya seru.. klo menurut saya(ini menurut sya blum tentu benar) kebanyakan orang yang terkena musibah rata-rata akan mengucapkan “ini takdir tuhan” sedangkan jika mendapat kebahagiaan misal mendapat mobil dari undian, rata-rata akan mengucapkan”saya hanya beruntung” jika ditanya orang lain. ya ini fenomena masyarakat yg umum. kebanyakan orang mengkambing hitamkan tuhan jika terjadi hal yg buruk dan jika tertimpa kebahagiaan,kemana kata “takdir tuhan” . dlu saya pernah ngalamin stress krn nilai kuliah anjlok dan dengan egois saya mengkabinghitamkan tuhan saya lalu berpikir ini bkn takdir, nilai sy jlek krn saya malas lalu saya merubah sikap malas saya dan terbukti nilai terus naik. sperti halnya di alquran bahwa allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka memang tidak mau brubah dan seperti halnya afriyani jika jauh sblum kejadian dia tersadar penggunaan narkotik dan minum2an keras salah mungkin kejadian tugu tani tidak ada.

  5. itu memang takdir Tuhan Mas…orang yang berhati-hati takdirnya selamat, orang sembrono takdirnya celaka…orang malas takdirnya gagal, orang rajin berusaha takdirnya sukses…piss ah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s