Tanpa Sirine dan Strobo, Saya Bisa Kok!

Beberapa minggu ini, dunia blogger di ramaikan oleh berita yang datang dari Jogjakarta tentang sebuah komunitas pemilik dan pecinta Yamaha Byson. Memang, alat yang satu ini masih menjadi trend (kampungan) dari beberapa bikers. Korban penggunaan alat haram ini tak hanya dari komunitas/klub motor yang kecil-kecil saja. Virus norak ini juga tersebar di anggota anggota dari klub klub besar macam Honda Tiger , Pulsar bahkan Harley! Padahal jelas, penggunaan alat ini telah diatur di Pasal 59 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009.

Namun, masih saja banyak yang berkilah, bahwa mereka membutuhkan alat haram jaddah ini. Alasan seperti : “kalau turing biar aman” atau ” kalo darurat biar bisa dipakai”.. Alasan yang sesungguhnya, atau cuma pembenaran?!  Pembenaran ini berhasil saya patahkan dengan pembuktian yang sengaja saya lakukan. Saya memiliki beberapa kisah yang membuktikan bahwa sirine dan strobo jelas hanya sebuah sampah bagi rakyat sipil!

Sekitar 1 tahun lalu, ketika saya hendak pergi makan siang di daerah Bungur, Arteri Pondok Indah. Saya menggunakan sepeda motor dari kantor saya di Kebayoran Lama. Ketika saya berada tepat di depan USNI, saya melihat mendengar raungan sirine dari sebuah kendaraan di belakang saya. Karena lalu lintas padat merayap, saya sempat melihat mobil tersebut. Ternyata sebuah ambulans. Namun sayang sekali, tak satupun kendaraan memberi jalan baginya.

Saya lalu melambatkan kendaraan saya dan membiarkan ambulans tersebut mendekati saya. Begitu ambulan itu berada tepat disamping saya, saya memberi kode kepada sang supir, “ikuti saya”. Benar saja, sang supir mengikuti saya membelah jalan yang siang itu padat. Saya membelah diantara 2 jalur mobil, agar ambulans tersebut bisa lewat ditengahnya. Hanya bermodal klakson yang dinyalakan sesekali, dengan sopan saya meminta jalan kepada pengendara jalan lain. Dan sayapun sukses membelah jalan sampai perempatan Kostrad di Bungur. Karena jalan setelah itu lengang, saya melepaskan ambulans tersebut. Dan sang supir memberikan kode “terimakasih”.

Kisah kedua ketika saya pulang kerja 2 – 3 bulan lalu. Di perempatan Lebak Bulus, saya melihat ambulans milik RS Fatmawati yang tejebak macet. Karena kebetulan sepertinya arah kami sama, yaitu kearah Ciputat, maka saya mencoba menawarkan bantuan kepada sang supir. Sang supir tidak menolak tawaran saya. Sama seperti kisah sebelumnya, walau terjadi di jam pulang kantor, dengan tetap menjaga sopan santun, saya berhasil membelah jalan sambil membawa sang ambulans. Namun kami berpisah Kampung Utan, karena sang ambulan berbelok ke arah sana.

Bukti tidak pentingnya sebuah sirine dan strobo juga saya buktikan dalam beberapa kali perjalanan turing saya dulu. Dan juga ketika saya tinggal di Legok, dimana jalan raya di kuasai oleh truk 18 roda.

Bukti lainya datang dari OBI (Otoblogger Indonesia) ketika melakukan perjalanan ke Semarang. Walau saya tidak ikut perjalanan ini, OBI membuktikan bahwa dalam rombongan turing tidak diperlukan sirine dan strobo. Padahal, tim OBI harus berjibaku dengan bus malam, truk bahkan hujan deras! Namun dengan mengutamakan Rules,  Skill dan Attitude, mereka sukses sampai ke Semarang.

So? masihkah membuat pembenaran bahwa alat itu di butuhkan? Tanpa sirine strobo, saya bisa kok! (*)

 

Iklan

8 thoughts on “Tanpa Sirine dan Strobo, Saya Bisa Kok!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s