[History] Mitsubishi, Bukan Hanya Legenda Di Darat. Tapi Juga Legenda Di Udara!

Inilah Legenda Udara yang menebar ketakutan pada penerbang sekutu! Mitsubishi A6M..

Pernah lihat Mitsubishi Lancer mulai dari generasi pertama sampai generasi hari ini? Ya, Mitsubishi Lancer adalah salah satu produk legendaris dari Mitsubishi Motor yang telah banyak menghasilkan prestasi. Salah satunya melalui World Rally Championship. Tak hanya itu, legenda lain Mitsubishi adalah Pajero yang telah meraja di kompetisi bergengsi yaitu Rally Paris Dakar  yang benar benar menguji ketahanan sebuah mesin di rute yang ganas.

Tapi tahukah anda, bahwa produk Mitsubishi tak hanya meraja di darat, tapi juga di udara? Ya, Mitsubishi A6M atau biasa disebut ZERO adalah legenda udara dari perang pasifik. Pesawat ini adalah pesawat paling terkenal pada era Perang Dunia ke II, bahkan yang terbaik pada masa itu. Zero adalah pesawat Jepang yang terbanyak yang pernah di produksi, tercatat, pesawat ini telah di produksi lebih dari 10.000 unit. Zero adalah pesawat berbasis kapal induk pertama di dunia. Jauh sebelum F-14 Tomcat produksi Amerika yang legendaris lahir. Asal muasal nama Zero sendiri berasal dari kode Zero di Angkatan laut Jepang sendiri yaitu Type 0 Fighter (Rei Shiko Sentoki atau disingkat Reisen)

Zero lahir dari permintaan Angkatan Laut Jepang akan adanya pengganti pesawat Mitsubishi A5M. Angkatan Laut Jepang menginginkan sebuah pesawat yang mampu terbang dengan kecepatan sampai 310 mil/jam pada ketinggian lebih dari 13.000 kaki, kemampuan menanjak sampai 9.800 kaki dalam 3,5 menit saja, dan juga senjata berupa 2 buah kanon 20 mm dan 2 senapan mesin 7,7 mm.

Jiro Hirokoshi

Selain itu, AL Jepang menginginkan adanya alat komunikasi berupa radio yang tidak ada di Mitsubishi A5M. Pada mulanya ada 2 perusahaan yang bersaing untuk mendapatkan proyek ini, yaitu: Mitsubishi dan Nakajima. Namun  Nakajima mundur dari program ini karena merasa tidak sanggup untuk membuat pesawat sesuai spesifikasi yang diminta. Akhirnya, hanya Mitsubishi yang mengerjakan proyek ini yang dimana ditangani oleh insinyur Mitsubishi yang bernama Jiro Horikoshi.

Prototype pertama selesai pada tanggal 16 Maret 1939 di pabrik Mitsubishi yang berlokasi di Nagoya. Adapun penerbangan perdana pesawat ini dilakukan pada tanggal 1 April 1939 oleh pilot Angkatan Darat Jepang (pada saat itu rata-rata negara di dunia belum memiliki Angkatan Udara yang terpisah, kecuali Inggris dan Jerman) yang bernama Katsuzo Shima. Pesawat ini kemudian diterima oleh Angkatan Laut Jepang pada tanggal 14 September 1939. Kemudian pesawat ini diberi kode A6M1. Namun ternyata, varian A6M1 ini hanya mampu terbang dengan kecepatan maximum 305 miles per jam pada ketinggian 12,470 kaki. Karena hal ini, maka Angkatan Laut meminta dibuatkan varian baru. Maka muncullah varian A6M2 yang kali ini menggunakan mesin buatan Nakajima berkode NK1C Sakae 12. Dengan mesin baru ini, maka Zero memiliki kemampuan diatas persyaratan yang telah ditetapkan.

Mitsubishi Zero

Pertempuran pertama Zero adalah di China. Ketangguhan Zero terbukti dengan jatuhnya 99 pesawat China yang kala itu masih menggunakan pesawat produksi Amerika dan Uni Sovyet. Dipihak Jepang, hanya 2 unit Zero yang ditembak jatuh. Itupun karena ditembak altileri darat. Kemampuan pesawat-pesawat mereka macam: Bell P-39 Airacobra, Curtiss P-40, dan Grumman F4F Wildcat bukanlah tandingan bagi Zero. Jepang benar-benar menguasai medan perang udara di pasifik saat itu karena Zero dengan mudahnya mampu menghancurkan pesawat-pesawat tersebut meskipun tenaga mesin Zero dibawah tenaga pesawat-pesawat tersebut. Hal ini karena bobot Zero yang jauh lebih ringan dibanding pesawat-pesawat tersebut. Ditambah lagi daya jelajah Zero yang jauh melebihi pesawat-pesawat itu, makin membuat pilot-pilot Jepang leluasa mengalahkan pesawat sekutu.

Saburo Sakai dan bukunya yang berjudul Samurai

Saburo Sakai dalam bukunya, Samurai, mengatakan bahwa seringkali pesawat-pesawat Zero tidak dilengkapi dengan radio dengan tujuan untuk memperingan bobot pesawat. Untuk menempuh jarak yang jauh, pilot Zero seringkali mengeset putaran mesin pesawat pada kisaran 1,500 – 2,000 RPM jika dirasa tidak ada musuh yang dapat mengancam dengan tujuan menghemat bahan bakar. Dengan pesawat lain, mungkin mesin sudah akan mati namun tidak dengan mesin yang diciptakan oleh Mitsubishi ini. Ironisnya, untuk membantah kehebatan Zero, pihak Sekutu seringkali mengklaim bahwa jumlah pesawat Zero jauh diatas jumlah pesawat mereka saat bertempur. Padahal menurut Saburo Sakai, hal ini tidaklah benar. Dalam tulisannyam ia berkata bahwa skuadron udara Jepang yang saat itu berpangkalan di Kalimantan untuk menyerbu Jawa hanya berkekuatan 18 unit saja. Dimana di skuadron ini para pilot bergantian menggunakan pesawat ini.

Bangkai Zero yang ditemukan di kepulauan Solomon

Namun sayangnya pada kala itu Mitsubishi tidak cepat merevolusi Zero. Zero yang memang memiliki ketangguhan kemampuan bermanuver terbang rendah selalu bermasalah ketika bermanuver dengan kecepatan tinggi. Terlebih ketika Amerika meluncurkan varian baru F4F WildCat yang lebih tangguh dari Zero. Namun sesungguhnya, masa tergelap dari Zero adalah ketika ditemukannya pesawat Zero yang terjatuh oleh tentara Amerika. Pesawat ini lalu dibawa ke Amerika dan diteliti oleh insinyur Amerika. Dan ditemukanlah kelemahan kelemahan Zero. Disini diketahui bahwa tangki bahan bakar Zero mudah terbakar, dan ruang kokpit pilot tidak dilindungi oleh kaca anti peluru serta tidak memiliki alat pemadam kebakaran. Dari sini kemudian pilot-pilot sekutu menemukan cara untuk mengalahkan Zero, atau setidaknya mengurangi kekalahan di pihak mereka. Nasib Zero benar-benar semakin hancur setelah diluncurkannya pesawat Grumman F6 Hellcat. Pesawat ini seperti memiliki segala kemampuan yang tidak dimiliki oleh Zero. Bisa dikatakan Zero kalah dalam segala hal, membuat jatuhnya banyak korban di pihak Jepang.

F4F Wildcat dan F6 Hellcat yang mengancam reputasi Zero

Walau mulai terancam, Jepang tetap tidak segera menelurkan pengganti Zero. Memang ada varian terbaru A6M5, namun tetap tidak terlalu banyak perubahan yang dilakukan kecuali mengganti mesin lama dengan mesin baru yang lebih bertenaga dan sebuah kanon tambahan yang dirancang untuk menghadapi pembom B-29. Meskipun demikian, A6M5 adalah varian Zero yang paling banyak diproduksi. Varian ini pulalah yang digunakan untuk melaksanakan misi Kamikaze dengan cara mengganti tanki cadangan dengan bom seberat 550 pounds.

Mitsubishi J2M Raiden

Jepang memang kemudian menciptakan pesawat-pesawat baru, diantaranya: Mitsubishi J2M Raiden dan Kawanishi N1K-J Shiden. Pesawat-pesawat ini memang lebih tangguh dibanding Zero dalam hal kecepatan maksimum, kecepatan menanjak, serta memiliki pelindung tangki bahan bakar serta kokpit anti peluru. Namun kelemahannya pesawat pesawat ini adalah dalam hal manuver, dimana pesawat ini sulit dikendalikan dibandingkan Zero. ini karena karena bobot mesin pesawat pesawat baru ini lebih berat, material pesawat yang lebih tebal, serta persenjataan yang lebih lengkap. Namun, mesin yang digunakan kedua pesawat ini dibuat tanpa perhitungan matang, sehingga sering bermasalah dan terpaksa dibawa kembali ke pabrik untuk dimodifikasi. Akibatnya, produksi menjadi tersendat-sendat yang pada akhirnya membuat Jepang mau tidak mau harus mengandalkan Zero yang lebih mudah dan murah untuk diproduksi serta telah teruji kemampuannya.

Reppu Legenda yang tak sempat lahir

Sayang sekali pesawat sehebat Zero tak memiliki penerus. Prototype pengganti Zero, yaitu A7M Reppu baru dirancang pada saat Jepang sudah mulai terdesak kalah. Reppu sebenarnya sebenarnya dirancang untuk memiliki kemampuan sehebat Raiden dan Shiden dengan kemampuan manuver sehebat Zero. Namun dengan kekalahan Jepang di perang dunia ke II, maka Reppu tidak sempat lahir dan teruji di medan tempur.

Setelah masa perang dunia ke II, Mitsubishi masih memproduksi pesawat tempur. Salah satunya adalah Mitsubishi F-1 dan Mitsubishi F-2 yang basisnya diambil dari F-16 Fighting Falcon dibawah lisensi Lockheed Martin.

Mitsubishi F-1 yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan Militer Jepang

JASDF (Japan Self-Defense Forces) Mitsubishi F-2 yang berbasis sama dengan F-16 Fighting Falcon yang juga digunakan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia, namun F-2 sedikit di modifikasi, terutama pada disain aerodinamis.

Setelah membaca artikel diatas, tentu kita melihat bahwa Mitsubishi memiliki sejarah kejayaan udara pada masa lalu. Dan kejayaan tersebut masih berlanjut di darat hingga sekarang. Semoga bermanfaat! (*)

Iklan

9 thoughts on “[History] Mitsubishi, Bukan Hanya Legenda Di Darat. Tapi Juga Legenda Di Udara!

  1. lawan yang setara sama pesawat bersasis Zero cuma P-51 Mustang…
    Zero memang menjadi legenda tersendiri. hingga kini, para ACE (pilot elit angkatan udara amerika) perang dunia kedua, tetap angkat topi untuk kemampuan manuver pesawat-pesawat Zero. Bukti, Jepang sudah superior di Udara. nice artikel bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s