Maaf, Negara Ini Tidak Akan Pernah Maju

Apakah seperti ini prilaku orang di negara maju?

Mungkin judul diatas yang saya berikan agak sedikit terlalu kasar. Tapi itulah yang ada di benak saya hari ini. Bahwa negara ini dengan segala kebobrokannya akan sulit bersaing dengan negara lain. Bagi saya, negara dengan mayoritas rakyat yang tidak disiplin, tidak akan pernah maju.

Disiplin? Saya tidak akan membahas panjang lebar tentang kedisiplinan di Republik yang (oknum) PNS-nya bisa jalan jalan ke mall saat jam kerja. Tapi saya hanya ingin melihat dari sisi keselamatan jalan dan aturan-nya yang berlaku saat ini. Yaitu aturan lalu-lintas yang hanya menjadi hitam diatas putih tanpa pelaksanaan yang benar dan penegakan hukum yang tegas.

Lihat saja diluar sana, banyak sekali mereka yang melanggar aturan lalu-lintas dengan terang terangan dan tanpa rasa malu sama sekali. Tengok saja, motor yang dengan percaya diri merampas hak pejalan kaki dengan melintas di trotoar, atau dengan penuh keberanian melintasi busway, atau melawan arah!

Tidak hanya itu, tidak sedikit rakyat di negara ini yang merasa sok pintar dengan mengeluarkan teori-teori sampah ketika sebuah undang-undang atau peraturan lainnya keluar dan membuatnya tidak nyaman! Mereka merasa lebih pintar dari pembuat kebijakan dan peraturan yang sudah melalui banyak percobaan dan uji kelayakan.

Apa yang terjadi ketika aturan menyalakan lampu di siang hari bagi sepeda motor keluar? mereka menjerit untuk memberontak! berteriak bahwa aturan ini adalah kebodohan pemimpin. Berdalih pemborosan, global warming, dan teori sampah lainnya yang tidak berdasar! Namun mereka yang menjerit tidak pernah mencoba mencari tahu, kenapa aturan itu dibuat. Inilah salah satu kebodohan sebagian rakyat di negeri ini.

Lain lagi dengan aturan kewajiban penggunaan helm SNI. Mereka berteriak bahwa ini akal-akalan Polisi untuk mencari ‘tambahan uang’. Benar kata salah satu komentator blog ini, Polisi tidak akan peduli dengan makian mereka. Mereka menjalankan tugas untuk melindungi rakyat Indonesia.

Sebegitu rendahkah daya berfikir rakyat kita? Ketika Polisi hanya nongkrong di pinggir jalan, mereka memaki. Namun ketika Polisi bekerja dengan merazia, menindak pelanggar hukum dan ketika Polisi membuat aturan lalu lintas, mereka-pun tetap memaki, merendahkan dan memfitnah Polisi. Ketika Polisi mengagur, salah, namun ketika Polisi bekerja-pun masih salah! Apa maunya orang di Republik ini?! Di negara manapun selalu ada yang namanya oknum Polisi. Hanya saja, jika kita mau patuh terhadap aturan, dan sedikit lebih cerdas menanggapi aturan, prilaku tersebut bisa membungkam mulut para oknum tersebut.

Polisi menindak anda karena anda salah atau cari uang? tanya diri anda sendiri!

Ingin Republik ini maju? Susah!! jika kita selalu berteori dan kontra dengan segala sesuatu yang sebenarnya berpihak kepada keselamatan kita. Tengok saja aturan lalu lintas di negara maju yang lebih ribet dari sekedar peraturan menyalakan lampu motor dan penggunaan helm SNI.

Lihat di Singapura, saat seseorang ingin memodifikasi motornya, dia harus melaporkannya ke Polisi untuk dibuatkan catatan di BPKB tentang modifikasi tersebut sebagai arsip. Ribet? Jelas! Tapi apa efek positifnya? jika seseorang kehilangan motor, catatan tentang ciri-ciri motornya tersimpan jelas pada arsip Kepolisian. Apakah rakyat Singapura memberontak dengan adanya peraturan ‘ribet’ seperti ini? Tidak!

Bagaimana dengan Jepang? Di negara ini membuat SIM adalah hal yang sulit! bahkan ada yang sampai berulang kali ujian, berbulan-bulan dan mengeluarkan ribuan Yen untuk biaya praktek. Apa alasannya? Pemerintah Jepang ingin memastikan bahwa mereka yang memiliki SIM benar-benar layak untuk mengendarai kendaraan. TIdak seperti disini, semua orang bisa punya SIM. Bisa melalui oknum Polisi, atau calo. Aturan pembuatan SIM-pun kadang bertolak belakang dengan keadaan di lapangan. Maka dari itu, kebanyakan pengguna kendaraan di Republik ini memiliki SIM salabim… Tak heran, attitude rendah dan IQ jongkok-lah yang menguasai jalan raya kita.

Lalu, bagaimana dengan negara negara Eropa dan Amerika Serikat? Di negara-negara Eropa dan AS, kewajiban yang paling mencolok adalah kewajiban menyalakan lampu bagi sepeda motor. Jujur saja, saya bosan membahas ini. Kebanyakan rakyat kita lebih pintar berteori dari pada para pembuat kebijakan di negara maju di luar sana dan pembuat aturan di Republik ini.

Dari beberapa kasus diatas, terlihat bahwa kita sebagai bangsa yang katanya kaya raya masih belum bisa menerima sebuah aturan dengan melihatnya dari sisi pandang lain. Rakyat di negara yang katanya ingin maju ini selalu memandang negatif semua aturan yang membuatnya repot. Padahal, keselamatan dirinya sudah dipikirkan dalam aturan aturan tersebut. Berbeda dengan masyarakat di negara maju, mereka dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi mampu melihat melalui sisi pandang lain tentang aturan keselamatan.

Bagaimana mau memikirkan kemajuan bangsa, memikirkan keselamatan dirinya saja tidak mau! Maaf, Indonesia tidak akan pernah maju jika kita terus berfikir dengan cara dangkal melawan kebijakan yang sebenarnya melindungi keselamatan kita. Teori sampah yang bisa saya berikan adalah : Kegagalan sebuah negara bisa di lihat dari prilaku pengguna jalan di negara tersebut.(*)

Iklan

20 thoughts on “Maaf, Negara Ini Tidak Akan Pernah Maju

  1. setuju sama anda…
    – masyarakat tidak disiplin
    – aparat kurang tegas
    – pejabat pemerintah tutup mata, sibuk korupsi

    jelas susah majunya…

  2. Setuju banget masbro…

    Saat pertama kali nyetir mobil di New Zealand (perjalanan Wellington-Palmerston North sekitar 2 jam) saya stress luar biasa… Kenapa???

    di Indonesia yg biasa semrawut dan aturan nggak jelas…tiba2 nyetir di negara yg tertib dan disiplin… kalo melanggar siap2 ditilang dan wajib bayar ke negara… tilangnya amit2 mahal banget… sekedar speeding aja bisa $120… gak pake seatbelt busa 2-3 kali lipat…

    Ternyata setelah 1 bulan menikmati keteraturan lalu lintas… begitu terasa sangat nyaman… sampe2 sy berfikir, kayaknya mustahil Indonesia bisa begini…

  3. sudah makin maju kok

    yg antri di belakang garis putih malah dapat diskresi dari pak polantas untuk terus maju memenuhi zebra cross, atau trotoar rendah (seperti di TL TMP Kalibata).

    yg berhenti di belakang palang pintu perlintasan KA meskipun tidak ada KA lewat, juga dianggap pak polantas menghambat lalu lintas dan disuruh cepat2 maju ke depan, meskipun belum tentu ada ruang yg cukup di seberang rel.

  4. Ping balik: Ketika Pemimpin Tak Bisa menjadi Panutan « MotorBirunya Igfar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s