Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.

Pernah dengar pepatah tersebut? pasti sering. Pepatah ini bermaksud menjelaskan bahwa kemanapun kita pergi, kita wajib menghormati dan memahami budaya setempat. Termasuk saat berkendara. Namun pepatah ini tampaknya sekarang sudah luntur. Atau lebih parahnya lagi, hanya berlaku sepihak.

alay?

Sepihak? ya! Indonesia pada dasarnya memiliki budaya saling menghormati. Itu yang saya pelajari ketika SD. Namun seiring berjalannya waktu, saya kini lebih memahami bahwa untuk sebagian orang di negara ini bukan budaya menghormati yang berkembang, namun budaya gila hormat. Lha?

Pernah tidak, anda melewati sebuah lingkungan perkampungan saat membawa kendaraan, lalu anda melewati tongkrongan anak muda setempat yang berada dipinggir jalan? Apa yang anda lakukan? biasanya mematikan lampu atau mengucap permisi. Namun bagaimana saat anak anak muda tersebut melewati lingkungan perumahan (dalam hal ini kompleks perumahan) anda? Geber geber gas? ngebut? Saya sering kali melihat fenomena gila hormat seperti ini. Di-kampung-nya mereka merasa harus dihormati. Namun saat melewati daerah perumahan orang, mereka seakan tak punya santun. Kejadian macam ini sering terjadi di lingkungan perumahan saya. Alay kampungan tanpa santun ngebut dijalanan perumahan. Bahkan pernah menabrak anak kecil yang sedang bermain di jalanan yang tertutup untuk umum. Bahkan saat ada bazar warga yang ramai, anak-anak kampung itu ngebut dengan matic busuknya yang ber-ban kecil dan berknalpot berisik. Padahal banyak sekali warga, ibu-ibu dan anak kecil yang menyebrang jalan. Apa ini yang disebut budaya saling menghormati?

Sebelum anda ingin dihargai, hargai dulu orang lain.

Kalimat diatas sudah jauh sekali dari budaya Indonesia. Di republik ini, kini yang berlaku adalah, “hormati saya, karena saya anak kampung sini“. Coba lihat jika ada ormas yang berkonvoi di jalanan. Apa mereka menghormati orang pengguna jalan lain? namun apa yang mereka lakukan jika anda berlaku sama seperti mereka di lingkungan mereka? minimal anda dipukuli.

Saya ada sedikit kejadian lucu. Sekitar beberapa tahun lalu, tetangga saya sedang merenovasi rumahnya. Kebetulan beliau yang katanya pengacara kondang sedang membuat rumahnya menjadi 3 lantai. Suatu hari datanglah sebuah truk pengangkut semen atau yang lebih dikenal truk molen. Kebetulan hari itu kakak saya sedang ada dirumah ibu saya, dan memarkir mobilnya dengan rapi di depan rumah agar tak menghalangi jalan. Tiba tiba mandor proyek tersebut mengetuk pagar dan berkata dengan ketus, “bu, tolong mobilnya di pindahkan, mengganggu!” Ha? menggangu? Saya yang sedang mencuci motor spontan naik darah! Mandor yang berjaket loreng tersebut langsung saya kroyok dengan kalimat makian! Ibu saya yang sudah menempati rumahnya lebih dari 10 tahun, di anggap menggangu oleh mandor yang baru 10 hari bekerja. Akhirnya mobil tersebut tidak bergeser dari tempatnya, dan truk itu tidak bisa berputar balik, sampai akhirnya sang mandor terhormat itu meminta maaf kepada ibu saya. Lain hal jika mobil kakak saya menghalangi jalan. Sisa jalan yang tersisa masih cukup untuk mobil lalu lalang. Namun bukan untuk truk 10 roda.

Mari kita berbicara sopan santun. Tak bisakah sang mandor mengucap, “maaf bu, mobilnya bisa dipindahkan sebentar?”. Dan saya bukan gila hormat karena setiap orang harus permisi kepada saya. Namun bisakah berbicara dengan sopan? Terutama kepada ibu saya. Bayangkan apa yang terjadi pada saya, jika saya melakukan hal yang sama di lingkungan tempat tinggal sang mandor? Mungkin bukan sekedar makian yang saya dapat.

Ah sudahlah. Negara ini memang sudah salah kaprah. Semua orang berharap di hormati, namun tak jarang mereka lupa untuk menghormati orang lain. Dalam keseharian saya, saya hanya bisa mencoba belajar menghargai orang lain tanpa pandang bulu. Karena saya percaya, jika saya memulai dengan menghargai orang lain, maka dengan sendirinya saya akan dihargai orang lain.

Diujung artikel ini, saya ada pertanyaan bagi anda pengendara yang santun dan sabar. Jika saat anda berkendara, tiba tiba jalur anda digunting oleh pengendara lain dengan cara yang nyaris mencelakakaan anda. Namun apa yang terjadi jika anda membalasnya dan nyaris mencelakakan orang tersebut? (*)

Iklan

6 thoughts on “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.

  1. di indonesia ni smuanya diajarin untuk menghormati yang lebih tua . . .

    klo menurut saya sih seharusnya, menghormati sesama . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s