Antara Aturan Keselamatan Berkendara dan Keterbatasan Masyarakat

Pagi pagi buka komputer kantor, tertarik dengan salah satu tulisan blogger dari Sulawesi Selatan. Beliau menghadapi kondisi dilema dalam berlalu lintas saat harus mengantar jemput anak dan keponakannya ke sekolah. Di satu sisi, beliau paham betul tentang aturan bahwa sepeda motor hanya boleh di naiki 2 orang. Namun di sisi lain, beliau tidak tega membiarkan anak dan keponakannya yang masih berusia 3 – 4 tahun harus berjalan kaki sejauh 1 km untuk bisa berangkat sekolah atau pulang. Pilihan lain ada pada transportasi umum jenis ojek dan becak. Jika bicara ojek, ya sama saja.. judulnya juga sepeda motor.  Maka kemungkinan pilihan ada pada becak. Namun ini kadang juga ini membuat orang tua merasa tidak nyaman menitipkan anaknya kepada orang lain. Maka atas dasar pertimbangan, dan karena memang tidak memiliki pilihan lain, akhirnya beliau memilih untuk mengantarkan anak dan keponakannya sendirian menggunakan sepeda motor.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Sulawesi Selatan. Tapi sudah terjadi di seluruh pelosok negri yang tidak memiliki transportasi massal yang layak. Karena perekonomian yang pas-pas-an pun membuat banyak orang tidak mempunyai pilihan selain menggunakan sepeda motor. Berbeda dengan mereka yang mampu, untuk mengantarkan seorang anak bersekolah saja, digunakanlah Toyota Alphard atau mobil mewah berukuran jumbo lainnya. Sehingga beberapa sekolah di Jakarta lebih terlihat seperti gedung parkir ketimbang sekolah.

Fakta diatas kadang membenturkan kesadaran akan keselamatan berkendara seseorang dengan kondisi yang ada di lapangan. Ketidak mampuan Pemerintah menyediakan transportasi massal yang aman, nyaman dan terjangkau, juga tingkat perekonomian masyarakat yang rendah membuat mereka kadang harus menggeser kesadaran akan keselamatan berkendara dengan kepentingan keluarga yang tidak bisa di tunda. Walaupun sang anak di bekali helm, begitu juga sang ibu.

Saya sendiri pernah mengalami dilema macam ini. Kadang untuk mengantar si kecil check up ke dokter anak yang jauhnya sekitar 3 -4 km, saya meminjam mobil kakak saya. Namun jika mobil tersebut sedang tidak bisa dipinjam, pilihan ada pada taksi. Bukannya sombong, kenyamanan bayi saya adalah hal utama. Sejuk dan bebas debu adalah keharusan. Namun bagaimana jika suatu hari keuangan saya sedang tidak terlalu bagus? pilihannya hanya ada dua. Angkutan umum atau sepeda motor. Memilih angkutan umum, berarti saya siap membawa bayi saya panas-panasan, bermacet ria, ikut ngetem bersama sang supir, belum lagi debu dari jendela angkot. Pilhan kedua adalah sepeda motor yang pasti lebih cepat. Namun tetap terjemur matahari dan berjibaku dengan debu. Belum lagi alasan keselamatan. Itu pengalaman saya. Bagai mana dengan banyak orang diluar sana yang hidupnya tidak seberuntung saya? Jangankan untuk naik taxi, untuk ongkos angkot saja sudah pas-pasan. Sehingga kadang motor harus jadi pilihan.

Beberapa orang memang seperti antipati dengan kondisi ini. Saya sering mendengar orang berucap bahwa tidak ada alasan untuk tidak safety riding. Mereka tidak akan membawa anaknya berkendara motor. Jelas saja, mereka menggunakan sepeda motor sebagai pilihan ke dua selain dengan roda 4. Namun, bagai mana jika mereka mengalami apa yang banyak orang diluar sana alami? Keterbatasan ekonomi, dan kewajiban sebagai kepala keluarga?

Mengambil kesimpulan dari apa yang saya jabarkan diatas. Seharusnya Pemerintah lebih peka melihat fakta dilapangan. Pengadaan transportasi massal yang aman, nyaman dan terjangkau, bukan saja berdampak pada berkurangnya kemacetan. Namun juga banyak faktor tentang keselamatan berlalu-lintas. Juga membuat orang memiliki pilhan lain selain menggunakan sepeda motor yang sebenarnya jauh dari kata aman. Lain dari itu, peningkatan taraf hidup rakyat juga menjadi salah satu kunci mengatasi dilema dalam masyarakat. So, jika rakyat sudah sadar akan keselamatan berkendara, apa kabar dengan Pemerintah?

Tulisan ini bukan untuk membantah tentang keselamatan berkendara. Hanya saja mencoba menjabarkan antara keselamatan berkendara dan mereka yang tidak memiliki pilihan. Walau membekali anak dan istri dengan atribut keselamatan, tetap saja berboncengan lebih dari satu penumpang adalah salah. Bagaimana pendapat pembaca sekalian? Monggo di diskusikan.. (*)

Iklan

7 thoughts on “Antara Aturan Keselamatan Berkendara dan Keterbatasan Masyarakat

  1. pertamak…

    yg pasti, kalo ngomongain Safety riding jgn seperti katak dalam tempurung…
    ga semua org kondisinya seragam. ada perbedaan mencolok.

    bhkan ada yg lebih ngambil resiko terparah demi sesuap nasi… cari uang pake motor dilengkapi helm CETOK.
    kalo emang mampu, tentu mereka tebus alat2 keselamatan buat diri mereka sendiri juga… 😀

  2. ya..saya sering menghadapi dilema macem gini…
    di Denpasar, yg namanya angkot itu sangat jarang…taksi, banyak..tapi tempat tinggal saya yg masuk2 gang, jadi ngga ada taksi yg lewat situ…
    jadinya saya kemana2 naik sepeda motor…nah, saya tau boncengan itu gak boleh lebih dari 1 orang..tapi masa antara istri dan anak saya harus ngalah??kan lucu…
    misalnya, saya mau jalan2 ke pantai…masa anak saya diajak, istri saya disuruh tunggu di rumah..lagian anak saya masih balita..ngga bisa pegangan sendiri..jadi ya mau ngga mau boncengan bertiga…
    ngga safety??keadaan tersebut saya imbangi dengan cara berkendara yg santun dan baik…untungnya keadaan lalu lintas di Bali cukup baik..jarang macet..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s