Untuk Kita Renungkan

Artikel ini saya buat untuk mengenang kepergian Ayah saya kembali ke Sang Pencipta pada 10 Juli 1997.

Ilustrasi. Namun kurang lebih, beginilah kondisi mobil kami pasca kecelakaan.

Tiba tiba saya teringat tragedi 18 tahun lalu yang menimpa keluarga saya. Tepatnya lebaran hari ke 3 tahun 1993. Pagi itu kami mengantarkan kakak yang harus kembali ke Singapura karena jadwal kuliahnya yg mengharuskan Ia masuk besok harinya. Namun, sepulang dari airport, tepat di depan gedung MPR/DPR, sebuah kejadian yang mengubah garis hidup keluarga kami terjadi. Mobil yang di kendarai ayah saya menghajar trotoar dan menabrak tiang listrik. Ternyata ayah saya mengantuk dan keluarga lainnya, ibu dan kakak laki-laki saya juga mengantuk. Kami berempat sempat tertidur dalam mobil.

Saya yang ketika itu masih kelas 3 SD, sempat hilang kesadaran, mungkin karena shock. Begitu tersadar, saya melihat darah dimana-mana dan jerit kesakitan dari ibu dan ayah saya. Bagimana tidak, Ayah saya mengalami patah kaki kanan dan kiri, patah tangan kanan dan kiri, retak tulang paha kanan dan kepala sobek. Plus gegar otak ringan. Ibu saya mengalami patah kaki kanan dan tangan kiri. Sedangkan kakak laki-laki saya mengalami retak tangan kanan dan batang hidung patah.

Sedangkan keajaiban berpihak kepada saya. Ibu saya yang duduk di belakang bersama saya, setelah kecelakaan posisi duduknua berputar 180º sehingga pantatnya ada dilantai mobil dan kakinya ada di jok mobil belakang. Sedangkan kakinya menahan punggung saya sehingga saya tidak terlempar kedepan. Dan saya hanya mengalami luka sobek kecil dipipi kanan. Sungguh keajaiban Allah.

Ayah saya yang mengajarkan saya tertib lalu lintas sejak kecil-pun tak luput dari kecelakaan fatal dengan penyebab kecelakaan yang seringkali di anggap orang sepele. Yaitu mengantuk. Walau Ia menggunakan sabuk keselamatan, Ia tak luput dari luka yang parah.

Akhirnya, karena luka yang cukup parah dari ibu dan ayah saya, ayah saya harus menjalani operasi selama 16 jam dan ibu saya sekitar 8 jam di RS Graha Medika Kebon Jeruk. Belum lagi biaya rumah sakit yang hampir menyentuh angka 90 juta. Ingat, biaya ada di terjadi di tahun 1993. Untung saja kala itu ayah saya masih bekerja di perusahaan pelebur Alumunium di Sumatra. Sehingga semua biaya perwatannya di RS Graha Medika di tanggung oleh kantor. Biaya tersebut belum termasuk biaya UGD di RS AL dan penggantian tiang listrik yang nyaris rubuh karena ditabrak.

Semenjak kecelakaan itu, Ayah saya yang tadinya gagah, setelah kecelakaan menjadi seorang yang pincang. Patah kakinya tidak dapat sembuh secara sempurna. Banyak orang yang akhirnya memandang rendah ayah saya. Terlebih semenjak pensiun, tahun 1995. Ia seperti tertekan dengan cacat kecil yang diderita pasca kecelakaan. Belum lagi penyakit macam jantung, gula dan darah tinggi yang dideritanya.

Pemakaman Ayah saya. Jenazahnya diantar oleh mahasiswa Akademi Ilmu Pelayaran karena beliau adalah Alumni AIP angkatan ke-6

Akhirnya, pada tahun 1997, Ayah saya meninggalkan saya dan keluarga untuk selamanya. Walau bukan karena kecelakaan, tapi karena komplikasi penyakit yang di deritanya. Meninggalkan berjuta kenangan manis. Namun juga meninggalkan pelajaran berarti bagi saya.  Bahwa, ayah saya, seorang yang mengajarkan tentang keselamatan berkendara ketika saya kecil, tak luput dari kesalahan hingga harus mengalami kecelakaan fatal bersama keluarganya.

Karena mereka lah kini saya berusaha menjaga diri. Karena saya kini adalah tulang punggung keluarga.

Dan kini 18 tahun kemudian, saat saya telah berkeluarga, kenangan itu terus membayangi saya. Entah saat sedang berkendara bersama mereka, atau saat saya berkendara sendiri. Saya tak ingin kesalahan saya berkendara mengorbankan keluarga saya. Saya tak ingin anak saya menjadi yatim karena ayahnya mengalami kecelakaan di jalan raya karena kebodohannya. Saya tak ingin istri saya menjadi janda dan harus mati matian bekerja menghidupi anak saya. Begitu juga dengan prilaku saya dijalan. Jangan sampai prilaku saya membahayakan orang lain. Karena kita tidak pernah tahu, berapa banyak kepala yang harus dihidupi dari pengguna jalan lain. Maka jangan sampai prilaku saya mencetak janda atau anak yatim baru. Maka dari itu, saya selalu memikirkan segala tindakan saya saat berkendara. Sehingga tidak ada yang harus menjadi korban.

Semua orang pasti mati. Itu mutlak. Tapi saya ingin mati dengan khusnul khotimah. Bukan karena kebodohan saya di jalan raya. Semoga Allah melindungi kita semua saat berkendara. Amin Ya Robbal Alamin.

Ps :

Ada hal yang sampai hari ini masih teringat jelas di kepala saya pasca kecelakaan. Saat kami masih masih berada di dalam mobil, datanglah sepasang suami istri keturunan Tionghoa menolong kami. Yang saya ingat, mereka menggunakan Isuzu Panther berwarna merah dan ada 2 orang anak kecil di dalam mobil tersebut. Mereka mengantarkan kami ke RS Angkatan Laut. Namun, setelah kami diterima pihak UGD RS tersebut, mereka langsung pergi meninggalkan kami tanpa meninggalkan identitas atau nomor yang bisa dihubungi. Mengucapkan terimakasih saja kami tidak sempat.

Jika salah satu dari anda yang menolong kami membaca tulisan ini, kami sekeluarga ingin mengucapkan terimakasih atas segala bantuan yang telah diberikan. Tak ada yang bisa kami beri untuk membalas kebaikan anda selain mendoakan agar anda sekeluarga selalu dalam lindungan Tuhan. Amin. (*)

Iklan

21 thoughts on “Untuk Kita Renungkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s