Media Harus Berhati-hati Bicara Melalui Twitter

Sebagian besar biker pasti sudah tahu apa itu Monasco. Ya, sebutan untuk tempat di bilangan Jakarta bagi para pehobi Cornering mengasah kemampuannya. Secara hukum, memang kegiatan itu ilegal, karena menggunakan sarana umum untuk latihan. Namun, para pelaku cornering ini memang tidak memiliki pilihan. Selain mungkin karena mahalnya harga sewa sirkuit, mungkin juga karena jauhnya sirkuit dari pusat kota.

Saya paham betul, memang latihan cornering tidak bisa disamakan dengan balap liar. Karena biasanya pelaku cornering melapisi badannya dengan atribut keselamatan yang cukup baik. Namun secara logis kita melihat dua hal ini sama sama dilakukan dijalanan umum, dan sangat mungkin membahayakan masyarakat pengguna jalan lain.

Kegiatan ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat biker. Dimata pelaku cornering, sah saja mereka melakukan ini karena mereka tidak memiliki pilihan lain untuk mengasah skill mereka di jalanan umum. Tapi dimata penggiat keselamatan, mereka telah jelas salah karena menggunakan sarana umum untuk kegiatan ini. Bagimana dengan anda?

Dukungan pemerintah, aparat lalu lintas, dan media dibutuhkan agar kegiatan ini menjadi ‘halal’ untuk dilakukan. Semisal menyediakan tempat khusus bagi pehobi cornering agar bisa melampiaskan nalurinya dengan aman dan nyaman. Atau mengadakan event khusus agar pehobi cornering agar kegiatan ini bisa mencuri hati biker lain.

Namun bagaimana jika sebuah media besar justru ikut-ikutan nimbrung di kegiatan yang memang belum mendapat restu aparat ini? Saya sempat terkejut dengan twit dari salah satu media pada tanggal 11 Juni 2011 lalu. Twit dari media besar ini seakan mendukung kegiatan ini berjalan melanggar hukum tanpa memberikan solusi bagaimana seharusnya kegiatan ini dilakukan. Bukankah seharusnya media berperan dalam mencerdaskan masyarakat?.

Simak twit diatas. Pada awalnya twit media besar ini hanya menginformasikan keberadaan kegiatan ini. Namun ketika disindir oleh pengguna twit lainnya yang memperingatkan keberadaan Polisi, media ini seakan membantu menginformasikan bahwa tempat itu steril dari Polisi dan aman jika ingin melakukan kegiatan ini.

Sedangkan pada twit diatas, Redaksi media tersebut mengatakan bawa mereka telah mencoba trek Monasco. Apakah benar tim redaksi telah melakukan uji coba, atau hanya pemegang account twit ini yang turun untuk uji coba tanpa izin redaksi dan membawa nama redaksi?

Di twit diatas, pada awalnya admin dari Twitter media ini mengucapkan bahwa mereka perlu untuk mewadahi aksi jalanan ini agar menjadi kegiatan yang legal. Namun ujung-ujungnya redaksi me re-twit pernyataan bahwa menyewa sirkuit itu mahal. Dan Monasco layak dijadikan ‘sirkuit’ pengganti bagi para pecinta kecepatan. Bukankah ini artinya menghalalkan jalanan umum dipakai untuk kegiatan ini? Piye to?

Twit media tersebut telah menjadi pembahasan yang cukup panas di milis Otoblogger Indonesia. Sempat beberapa blogger mempertanyakan hal ini kepada perwakilan redaksi media diatas melalui Twitter. Dan tak berapa lama-pun, ucapan maaf terucap dari perwakilan redaksi.

Melihat kasus twit media, saya teringat oleh twit yang sempat panas yang dikeluarkan oleh salah satu ATPM. Potongan twit tersebut berbunyi : …ngebut tapi safety. Twit ini medapat kecaman keras dari penggiat keselamatan jalan raya. Lalu, bagaimana dengan twit dari salah satu media besar ini? Media seharusnya mampu memilah sebuah bahan berita dari segi hukum yang berlaku. Bukannya menginformasikan kegiatan ini mentah seperti adanya. Memang, twitter hanya social media yang sudah umum. Namun, sepertinya banyak jurnalis yang belum paham betul bagaimana bermain di dunia maya. Untuk kita ketahui bersama, tidak sedikit media yang tersandung masalah ketika bermain di social media. Salah satunya Washington Post. Seperti yang saya kutip dari Blog Tempo Interakif yang ditulis oleh Wicaksono tentang kecaman yang dihadapi Washington Post melalui Twitter-nya:

Memo itu keluar setelah Post — sebutan untuk koran itu — menerbitkan sebuah artikel dari penulis tamu, Tony Perkins, yang memicu kontroversi. Artikel Perkins itu merupakan pendapat pribadinya terhadap sejumlah aksi bunuh diri remaja di Amerika Serikat yang mendapat tekanan (bullying) karena menjadi gay. Perkins berpendapat bahwa homoseksualitas merupakan masalah kesehatan mental. Pendapat tersebut membuat kelompok aktivis pembela kaum gay, GLAAD (The Gay & Lesbian Alliance Against Defamation), melancarkan protes melalui Twitter dan situs web mereka. …..

…… Kita tahu, banyak media di Indonesia yang sekarang memakai Twitter untuk menyebarkan berita dan informasi yang mereka produksi. Para jurnalisnya pun sangat aktif berkicau di Twitter. Tapi secara sepintas terlihat bahwa belum semua perusahaan pers dan jurnalisnya yang memahami “aturan main” di media sosial.

Untuk itu, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, perusahaan media wajib mengedukasi staffnya dalam menggunakan social media semacam ini agar tidak menjadi bumerang bagi perusahaan tersebut. Yang lebih berat, media memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar dalam mencerdaskan masyarakat agar tak terpuruk dalam kebodohan. Dan media-pun memiliki pengaruh besar dalam membentuk mindset masyarakat. (*)

Sumber gambar Cornering

Iklan

81 thoughts on “Media Harus Berhati-hati Bicara Melalui Twitter

  1. yang menguatkan adanya kata2 “speedfreak” dan “kelas Moto2” yg ditulis oleh @otomotifnet dan @motorplusweekly

    mengartikan ini seperti balapan toh?

  2. gak ngerti nih admin si tabloid itu gimana mikirnya..
    jangan2 tar juga bilang “naek trotoar itu memacu adrenalin”

    ada kok race yang pake jalanan umum, di negara mana gitu, tapi ya itu, dibikin legal..
    minta ijin trus disterilin..

    dan maaf nih, soal sewa sirkuit dibilang mahal kok kayaknya aneh ya, dulu pernah ikutan ke sentul cuma 200 ribu kok untuk motor dibawah 250 cc (sekarang 250 ribu). Kalo modif motor bisa ampe berjut2, kenapa cuma 250 ribu kagak mampu?

      • gak usah orang miskin kalo gratis juga mau… gak usah bawa status ekonomi deh disini.. bahasannya apaan knp status ekonomi dibawa-bawa 250rb buat atas ente bisa cuma 250rb, buat org lain 250rb bisa untuk hidup 1 bulan..

  3. saya pernah ikut sekolah siang di Sentul, murah tuh…gabung aja dgn klub yang sudah rutin sekolah disana…

    permintaan maaf melalui akun pribadi, menurut saya belum cukup, harus dilakukan di akun otomotifnet juga, meskipun permintaan maaf nya mengatasnamakan redaksi

    menurut sumber terpercaya, sebagian besar jurnalis belum memahami etika jurnalistik sepenuhnya sehingga perilakunya, salah satunya, seperti diatas. Harusnya menjadi kontrol sosial, justru malah mendistorsi kondisi sosial.

    salam

    • sampeyan gila hormat banget ya.., udah minta maaf di twiiter oleh sang redaksi masi diminta minta maaf oleh akun otomotif. net

  4. Cornering kok membahayakan. Besok2 kalo riding ketemu tikungan mbok lurus ae yo mas ?

  5. kalo cornering dibilang membahayakan besok naik motor bawa bantal sampeyan mas… jadi pas jalan belok sampeyan lurus aja trus biar ngampar dijalan..

    GOBLOK!!

  6. ya ya ya…lo lo pada repot2 amat sih, polisi aja kayaknya diem2 aja tuh….pada mau ngapain sih elo elo itu !

  7. apa bedanya cornering sama balap liar?
    mau dibilang latihan kek tetep aja itu lu lakuin di jalan umum bukan jalanan pribadi bro
    kalo emang lu pada demen cornering kenapa lu gak ke sirkuit bro?
    jangan bilang lu pada orang susah deh

    gw perhatiin lagak tukang cornering ini kaya preman aja, dikasihtau bae2 malah sewot
    lu pikir lu yg paling bener bro?lu pikir lu jagoan jalanan bro?

    lu pada bikin masalah di monas
    YGen siap turun.

    Peace!
    -Billy-

    • Sorry, bro. sebelumnya gw mau tanya dulu. Menurut lu sendiri cornering itu apa ? kalo menurut lo cornering = balepan. Yaudah deh, ga bakal komentar lagi gw.

      Kita bukan sewot, yang namanya manusia kan punya pemikiran masing2. Ga salah dong kalo kita mempertahankan pemikiran kita, dan kalian dengan pemikiran kalian. kalo nantipun ada yang salah dengan pemikiran kita atau pemikiran kalian, itu terserah masing2 mau nerima bahwa dia salah dan mencoba buat merubah pemikirannya atau enggak

      BTW, serem juga yah, udah ngelebihin wewenang polisi aja tuh hiii

    • eh boncos lu tau kagak arti cornering…, kalo cuman mau cornering ga harus nimonas, cornering beda sama balap liar..

      cornering itu ttp mengdepan aturan dari keselamatan dri dengan safety gear
      cornering gak ngeblok jalan
      cornering gak nguber orang yang ganggu start spt di balap liar
      cornering gak ada taruhan2
      CORNERING ITU BELOK…. GOOOBLOOOK!!!!

      emang lu gak pernah cornering apa? lurus2 terus??

      dont ever say peace when your mind has a lot of violence

      -MATICMANIAC-

  8. Yang preman motor bukannya ygen cuy???
    Hati2 lo ngomong cuy!!!!
    Dasar preman motor kriminal!!!!

    Lo bisa ngerampok motor doang aja brisik.
    Cornering becus kagak lo cuy????

    Cemen lo!!!!

Komentar ditutup.