Tanggung Jawab Jadi Blogger Itu Nggak Kecil

Semenjak saya bergabung dengan Otoblogger Indonesia (OBI), jumlah pengunjung blog saya jauh meningkat dari sebelumnya. Walau mungkin tidak sebanyak senior saya di OBI, namun ini adalah fakta yang ada di blog stat saya. dari Rata rata sekitar 100 pembaca setiap hari, menjadi sekitar 100 – 300 pembaca setiap hari. Bahkan terkadang melonjak sampai 600 pembaca. Ini saya maklumi karena blog saya sudah tercantum di agregator OBI yang memang sudah terkenal dan diisi oleh blogger berpengalaman.

Warna kuning adalah stat setelah saya bergabung di OBI

Apakah saya senang pembaca saya meningkat? Pasti! Namun apakah saya memiliki kekhawatiran dari meningkatnya jumlah pembaca saya? Ya, saya khawatir.

Meningkatnya jumlah pembaca saya, mengartikan bahwa saya memiliki tanggung jawab moral dari apa yang saya tulis. Sedikitnya, apa yang saya tulis bisa mempengaruhi pola pandang seseorang terhadap sesuatu hal. Memang, alangkah baiknya jika seorang blogger menulis dari hatinya tanpa di bayang bayangi oleh pihak manapun. Namun, menulis dari hati-pun tak semudah seperti yang diucapkan. Perlu investigasi, kesabaran dan ketelitian dalam menyampaikan sesuatu.

Tulisan yang tidak jujur karena seakan ‘ditunggangi’ oleh pihak tertentu hanya akan menyebabkan kebingungan publik. Ditempat lain, pembaca membaca fakta yang lain, namun di tempat lain pembaca disodorkan fakta yang berbeda pula yang mungkin membawa kepentingan pihak tertentu.

Lain lagi dengan emosi. Tulisan yang di latar belakangi oleh emosi terkadang malah menjadi tidak enak untuk dibaca dan tak jarang hanya menjadi sampah. Maka dari itu, blogger dituntut untuk mengendalikan dirinya sebelum menulis, agar tulisannya bisa memberikan informasi yang valid tentang sebuah kejadian atau pengalaman atau bahkan produk.

Pada dasarnya blog digunakan untuk menuliskan pengalaman sesorang berdasarkan sudut pandangnya. Itu sah-sah saja. Namun penulisan tentang pengalaman tanpa adanya penyaringan fakta akan membuat si pemilik blog seakan berpihak pada sesuatu. Minimal, menganggap dirinya di posisi yang paling benar. Sebagai contoh, si A mengalami tabrakan karena tersenggol mobil ketika berkendara dengan motor. Lalu Ia mempostingnya dalam bentuk tulisan dan menyalahkan pengendara mobil tersebut. Padahal Ia tidak sadar kalau dirinya yang salah karena berbelok dengan tidak memberikan tanda.

Contoh lain adalah saya sendiri. Saya sering kali menuliskan tentang alay. Namun, apakah saya sudah berkendara dengan baik dan benar? jawabannya belum! Namun saya selalu berusaha mengutamakan keselamatan dan menghargai hak orang lain. Dan fenomena alay bermotor menurut pandangan saya sudah jelas lari dari koridor keselamatan dan rasa saling menghargai. Berusaha-pun tidak. Dan apa yang saya tulis bertujuan menyampaikan informasi ini pada masyarakat luas agar paham tentang mana yang salah dan yang benar. Plus, masyarakat bisa mengantisipasi dirinya ketika berhadapan dengan kondisi yang sama.

Harapan lainnya, blogger mampu mengedukasi masyarakat melalui tulisan tulisannya yang jujur dan cerdas. Agar masyarakat memiliki pandangan yang jelas terhadap sebuah fakta. Bukan menjadi boneka akibat tulisan kita sendiri yang berakibat seperti membodohi masyarakat.

Walau saya belum pernah menulis tentang test ride sebuah produk baru, namun jika saya membaca tulisan mengenai itu di blog orang lain, saya merasa mendapatkan informasi yang barmanfaat tentang produk baru. Sama hal-nya seperti menulis cacat sebuah produk, saya juga seperti mendapatkan informasi lain yang nyaris tidak pernah diangkat media mainstream. Namun, pengangkatan fakta tentang baik buruknya sebuah produk perlu ditelaah lagi. Dari sudut mana blogger tersebut berbicara? Apakah hasil review sebuah produk baru benar-benar berdasar pada pengalaman si blogger? Atau, apakah cacat sebuah produk memang akibat kesalahan pabrik atau penggunaannya yang melewati ambang batas kewajaran? Kembali lagi, dituntut kejujuran dalam mengungkapkan fakta. Tak lupa investigasi dalam membeberkan fakta.

Ah, sudahlah. Seperti mengutip kalimatnya Mas Benny di BikersGuide Magazine edisi 3.

More power, more responsibility. I dont have power but I have responsibility.

Blogger seperti saya memang tidak memiliki kekuatan seperti media mainstream. Namun saya memiliki tanggung jawab dalam memberikan informasi yang berimbang, jujur dan cerdas. Dan saya akan terus berusaha untuk itu. Terimakasih OBI, terimakasih pembaca. (*)

Iklan

17 thoughts on “Tanggung Jawab Jadi Blogger Itu Nggak Kecil

  1. artinya blogger punya tanggung jawab moral thd apa yg di release, tapi ada juga blogger yang bersemboyan ” apa yag ada di otak ” itu yang dia tulis, kemudian dipublish dengan tidak mengindahkan kaidah estetikanya. Perkara pembaca suka atau tidak, itu urusan nmr sekian. Toh yang ada di otak penulis sudah dikeluarkan, bilamana berbeda persepsi pembaca toh kebebasan berekspresi diatas segalanya.

  2. Bagus…. nice articles… !!! berikutnya adalah istiqomah,… alias konsistensi … dan hal ini mengingatkan Juragan ROndO pada awal-awal menulis blogz sekitar pertengahan tahun 2007 …!!! 😀

  3. Ping balik: [Blog Review] IWB dan Suzuki Satria Trondol-nya « MotorBirunya Igfar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s