Kisah Perjuangan Si Ojan Sang Polisi

Tri Brata. Logo kebesaran Polisi Republik Indonesia

Teringat kisah luar biasa yang terjadi sekitar 2 – 3 tahun lalu. Kisah seorang teman yang sempat menyerah ketika gagal menggapai cita citanya. Namun mampu merubah nasibnya hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan. Ia merubah nasibnya dengan segala keyakinan dan semangat yang dimilikinya.

Sebut saja namanya Ojan. Seorang lulusan SMA sekitar tahun 2005 dari keluarga sederhana yang bercita-cita menjadi Polisi. Begitu keras keinginannya menjadi Polisi, sehingga Ia rela merubah pola hidupnya. Berhenti merokok, jarang keluar malam dan rajin lari pagi dan olah raga lainnya. Dan ketika ujian masuk Pendidikan Polisi di buka, dengan penuh semangat Ia mendaftarkan dirinya. Namun Ia gagal lolos seleksi kali itu.

Kegagalan pertama tak membuatnya menyerah. Ketika pendaftaran dibuka kembali, untuk kedua kalinya, Ia-pun mendaftar kembali. Namun keberuntungan masih belum berpihak kepadanya. Tak menyerah juga, Ia menunggu kembali dibukanya pendaftaran. Dan untuk ke tiga kalinya, Ia mendaftarkan dirinya kembali. Namun masih saja gagal.ย Tiga kali gagal lolos seleksi masuk Pendidikan Polri, akhirnya Ia menyerah. Dan merubah total hidupnya dan kembali ke pola hidup di masa lalu. Mulai sering keluar malam, merokok, sampai minum-minum bersama temannya.

Hingga suatu malam, sepulang saya kerja, saya mampir ke warung rokok langganan saya di dekat rumah untuk sekedar merokok ย 1 – 2 batang saja sebelum pulang. Di kejauhan saya melihat teman-teman se-komplek saya sedang nongkrong dan sepertinya sedang minum-minum. Tapi saya sangat mengenal mereka. Mereka semua bukan tipikal anak nakal yang minum-minum sampai mabuk lalu berbuat onar. Mereka hanya minum sekedarnya.

Saat saya sedang ngobrol dengan pemilik warung, datanglah si Ojan membeli rokok. Ia tak terlalu mabuk. Dan Ia menegur saya. Lalu saya menanyakan perihal seleksi Polri. Dan kemudian Ia mengajak saya ngobrol agak menjauh dari warung dan teman-temanya.

Duduk agak jauh dari keramaian, air matanya mulai jatuh. Ia menceritakan kegagalannya. Tak hanya gagal menjadi Polisi. Ia merasa gagal membahagiakan orang tuanya, merasa gagal ingin menyekolahkan adik-adiknya dan merasa gagal sebagai manusia. Orang tua Ojan hanyalah pensiunan pegawai negeri biasa. Yang mati-matian membiayayai Ojan sampai lulus SMA dan juga adik-adiknya sekolah.

Saya terdiam sejenak. Lalu menepuk pundaknya. Saya mulai bertanya, “loe nyerah?”. Ia pun mengangguk. Saya mulai memberikan sharing tentang kekuatan hati dan pikiran yang sedang saya pelajari. “Jan, gagal atau tidaknya loe menjadi Polisi bukan di tentukan oleh faktor luar. Tapi karena hati lo sendiri. Apakah loe udah memantabkan hati loe untuk menjadi Polisi?” Tanya saya. Ia-pun mejawab, “Sudah, far. Tapi gue bener-bener patah semangat sekarang. Gue udah gagal! Gue malu!” Jawabnya dengan tegas.ย Lalu saya bertanya tentang niatnya menjadi Polisi, Ia-pun menjelaskan, Ia ingin sekali menjadi orang yang berguna untuk masyarakat, berguna untuk orang tua dan keluarganya. Bukan menjadi sampah masyarakat yang hanya nongkrong setiap hari tanpa tujuan hidup.

Tak banyak yang bisa saya berikan untuk menyemangatinya, selain ilmu yang saya juga sedang pelajari. Yaitu kekuatan hati dan pikiran. Saya hanya berusaha mengajarkannya untuk mengikhlaskan segala kegagalannya dan mengembalikan semua kepada Sang Pencipta. Kemudian saya hanya mencoba mengajaknya untuk meng-introspeksi dirinya dan cita-citanya. Cari dan gali, apakah benar semua cita-citanya akan baik untuk dirinya dan orang di sekitarnya? Tak lupa, saya juga mengingatkannya untuk selalu bersyukur atas hidupnya. Karena dengan bersyukurlah, Tuhan akan selalu memberikan segala rahmat dan karunianya. Terus terang saja, kalimat demi kalimat yang saya berikan memang gampang diucapkan. Namun sulit untuk di praktekkan. Karena saya-pun sedang belajar tentang hal ini.

Tapi saya tak menyangka, Ia begitu antusias mendengarkan ucapan saya. Lalu saya mencoba memberikan cara untuk mulai memperkuat pikirannya. Pertama, Minta. “Mintalah apa yang loe inginkan kepada Tuhan. Karena hanya pada-Nya-lah kita bisa memohon” ucap saya. Kedua, Yakin. “Yaitu meyakini tanpa keraguan sedikitpun bahwa Tuhan Sang Pencipta dengan segala kebesaran-Nya akan mengabulkan niat tulus loe manjadi Polisi.” Dan ketiga, ini yang agak aneh, Rasakan. “Coba loe lebih sering membayangkan diri lo dengan seragam kebesaran Polri. Jangan malu untuk berhayal. Bayangkan, saat temen-temen loe masi nongkrong tanpa tujuan, loe lewat sini dengan seragam Polisi”. Saya mencoba menyarankan dia untuk lebih sering bermimpi. Karena dengan bermimpi, banyak kisah bahagia dimulai. Walau hanya dalam alam pikiran, kekuatan pikiran kita untuk merasakan mimpi kita akan membawa kita menembus alam bawah sadar dan akhirnya, tanpa kita sadar, mengendalikan diri kita mengejar mimpi kita.

Ojan pun semakin bersemangat mendengarkan sharing yang saya sendiri sedang coba praktekkan. Akhirnya, Ia berterimakasih kepada saya dan ingin pulang untuk beristirahat. “Besok gue mau lari pagi! Gue yakin kesempatan masih ada!” Ucapnya. Jam-pun sudah menunjukan pukul 02.30. Dan kami-pun memutuskan untuk berpisah. Di tandai dengan salaman dan pelukan persahabatan. “Bismillah…” Ucapnya sambil memeluk saya.

Enam bulan telah berlalu. Saya-pun sudah lupa dengan kejadian itu. Hingga suatu hari di malam Minggu, saya menyempatkan mampir ke warung langganan saya untuk membeli rokok. Sambil menyalakan rokok dan minum Teh Botol di warung tersebut, sebuah Yamaha Mio datang. Saya tidak begitu memperhatikannya hingga sang pengendara membuka helm-nya. Ternyata Ojan. Saya masih belum ‘ngeh’ dengan penampilannya sampai Ia membuka jaket hitam miliknya.

Luar biasa! Kini Ojan sudah memakai seragam coklat yang dicita-citakannya. Ia-pun memeluk saya dan sedikit menitikkan air mata. “Makasih, Far!” ucapnya. Ternyata, kurang lebih satu bulan setelah malam itu, Ojan mencoba untuk mendaftar kembali. Dan Ia lolos seleksi dan akhirnya mengikuti pendidikan di Lido, Sukabumi selama beberapa bulan. Ia mengakui, semenjak malam itu, semuanya berjalan dengan mudahnya. Hatinya dipenuhi keyakinan dan semangat.

Ini membuat saya merinding luar biasa. Saya yang sedang mempelajari ilmu tentang kekuatan hati dan pikiran saja belum bisa memetik hasil yang saya pelajari seperti dia. Namun, Ojan dengan segala kekuatan hati dan pikirannya, mampu menembus segala keterbatasan dan mewujudkan impiannya. Ojan yang hanya lulusan SMA dan sempat terpuruk karena kegagalannya, mampu memutar balikkan kenyataan dalam waktu singkat dan akhirnya berhasil mewujudkan cita-citanya dan bisa membuat keluarganya bangga. Dan perlu di ingat, Ojan berhasil dengan kejujuran! Tanpa bantuan siapapun!

Ia-pun bercerita, hari itu Ia berdinas di Polsek Pamulang sambil menunggu di tempatkan di tempat yang baru. Dan Ia menceritakan cita-cita barunya untuk mengambil sekolah Perwira Polisi. Saya hanya bisa kagum dengannya. Contoh luar biasa tentang ikhlas, syukur dan kekuatan pikiran.

Saat tulisan ini diangkat, saya sudah lama kehilangan kontak dengannya. Saya belum tahu, apakah Ia sudah berhasil masuk sekolah Perwira Polisi atau belum. Namun saya mengingat ucapan saya saat terakhir bertemu dengannya. “Ketika lo sudah menjadi besar nanti. Jadilah Polisi yang jujur dan melindungi masyarakat”. Semoga saja. Amin. (*)

Iklan

27 thoughts on “Kisah Perjuangan Si Ojan Sang Polisi

  1. manfaat dari yang kita pelajari bukan berarti kita yang merasakan, tapi mungkin saja lewat orang2 disekitar kita, jd bukan berarti apa yang kita pelajari itu tidak bermanfaat atau kita gagal mengamalkannya. itu sih pendapat saya lho he..he.. ๐Ÿ™‚
    btw, nice artikel mas.

  2. wew..keren keren..

    jadi inget kawan sekelas waktu di STM dulu…
    pas waktu sekolah mah anaknya bandel (bandelnya anak muda sih), eh pas ketemu 2 taun setelah lulus..dia dah pake seragam polisi…hehehe..ngga nyangka bangeet…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s