Tidak Punya SIM? Cukup Bayar Denda Rp. 50.000 Saja!

Siang ini sampai di kantor dengan agak basah karena hujan yang tiada disangka turun begitu derasnya. Sesampai dikantor, saat saya sedang melepas semua atribut anti air, seorang rekan yang bekerja sebagai kurir menanyakan apakah di putaran balik jalan Pakubuwono masih ada razia. Tentu saja saya menjawab tidak, karena memang saya tidak melihat adanya razia. Entah karena hujan atau mungkin razia yang dimaksud sudah bubar.

Lantas saya menanyakan, ada apa gerangan adinda menayakan hal demikian? (halah), dia menjawab, dia baru saja terjaring razia ketika sedang mengantar surat ke klient dan didapatkan oleh petugas tidak memiliki SIM. Akhirnya ia harus membayar denda kepada Polisi sebesar Rp.50.000.

Tak sampai disitu. Lalu saya mencoba kroscek tentang masalah ini, ternyata kantor sudah berkali kali menyuruh yang bersangkutan untuk membuat SIM. Hanya saja, dia yang terus menunda untuk membuat SIM. Kenapa dia terus menunda membuat SIM? Apakah sebegitu mahalkah biaya membuat SIM? atau memang bagi sebagian orang SIM memang di pandang tidak begitu di perlukan?

Pertanyaan berikutnya, apakah denda resmi atas pelanggaran tidak memilik SIM adalah denda sebesar Rp.50.000? Adakah dasar hukumnya? Apakah denda yang di bebankan kepadanya adalah denda resmi atau denda untuk memperingatkan saja? Coba kita cek.

UU No. 22 Tahun 2009 – Pasal 281
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Jika saya membaca potongan undang-undang diatas. Denda Rp. 50.000,- bisa saja di berikan. Dan itu sah menurut undang-undang. Kenapa? perhatikan kalimat diatas, …dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). Disebutkan ‘paling banyak’. Berarti ada jumlah minimal yang bisa dibayarkan. Namun apakah benar jumlah yang dibayarkan teman saya tersebut sah dan masuk kas negara?

Oke, setelah saya investigasi, menurut pengakuan teman saya, pertama kali Ia diancam diberikan surat tilang merah dan harus mengikuti sidang dan kemungkinan bisa dikenakan denda sebesar Rp 250.000. Menurut pangakuannya-pun Polisi tersebut berniat menahan STNK-nya. Namun menurutnya, setelah negosiasi yang alot, diputuskanlah uang ‘denda’ sebesar Rp.50.000. Namun, setelah saya tanya, apakah ada bukti pembayaran denda sebesar Rp 50.000 itu? Ia menjawab, tidak ada.

Lalu saya bertanya dalam hati, kemanakah gerangan larinya uang Rp 50.000 itu? apakah pembodohan hukum terulang kembali di tengah maraknya kampanye ‘anti pemberi dan penerima suap’? Sudahlah, silahkan anda simpulkan sendiri.

Secara logika, memang ‘denda’ sebesar Rp. 50.000,- tidak menimbulkan efek jera. Namun perhatikan lebih cermat, jika anda terjaring operasi resmi, dan anda tidak bisa menunjukan SIM, bisa saja anda terkena denda yang sebenarnya sebesar Rp 200.000, Rp 500.000 atau bahkan lebih besar lagi. Baik itu melalui sidang atau-pun pembayaran melalui Bank BRI. Tak sampai disitu, bisa saja anda diseret ke dalam sel. Entah satu hari, dua hari atau empat bulan. Hmm.. hukuman yang (seharusnya) tak main-main. Tinggal bagaimana pelaksanaannya di lapangan.

Selain itu, menurut aturan yang telah di buat tentang kepemilikan SIM, saya menyimpulkan bahwa jalan raya adalah hak pemilik SIM (kecuali sepeda dan gerobak tentunya). Dengan kata lain, jika anda tidak punya SIM, anda (seharusnya) tidak boleh berkendara di jalan raya. Sebagai contoh, apabila anda mengalami sebuah kecelakaan, walau anda dalam posisi benar, dihadapan hukum anda tidak bisa berkata-kata. Karena anda tidak memiliki izin untuk berkendara.

Sekarang terserah anda yang tidak memiliki SIM, masih bertahan untuk tidak membuat SIM atau mengikhlaskan uang anda untuk membayar ‘denda’? Semoga saja anda tidak dipenjara! (*)

Iklan

21 thoughts on “Tidak Punya SIM? Cukup Bayar Denda Rp. 50.000 Saja!

  1. bikin sim susah, saya sudah 3 kali coba gagal terus karena buta warna, tapi kalau melihat warna rambu – rambu masih normal dan menurut saya penglihatan saya masih normal saja. Tapi ya wis, yang penting sudah coba melalui jalan yang benar, xi xi xi

  2. SIM hanya memenangkan sebelah pihak, yaitu para polisi-polisi tu.
    SIM tidak menyelamatkan si pengendara kalau terjadi pelanggaran lalu lintas tanpa sengaja, tetap aja di tilang.
    SIM tidak dapat melapisi kepala yang terbentur ke aspal tatkala terjadi kecelakaan
    SIM hanya merugikan pengendara, dan mempersulitnya.
    Seharusnya pemerintah kalau memang peduli terhadap rakyatnya yang punya kendaraan adalah mengutamakan helm dan STNK si pengendara.
    karena helm itu dapat melindungi kepala si pengendara.
    karena STNK adalah bukti bahwa kendaraan si pengendara adalah hak milik. bukan curian.
    tu komentar dari saya

    • Setuju gan, meski tak sengaja melakukan pelanggaran tapi kalo surat kita sudah ditangan bapak ibu yg terhormat tersebut, sudah apa boleh buat kita hanya bs menerima keputusan mereka yg terhormat.
      Satu hal Bapak Ibu yang terhormat jagalah kewibawaan seragam dan institusi. Tolong jangan terima suap, kalopun kita mau melapor, kita tidak tahu Kemana dan jebakan apa yg akan kita terima, mungkin ini rahasia umum dan publik hanya bisa bicara dibelakang karena kita tidak tahu alur hukum yg benar sedangkan yg terhormat sangat mahir dalam alur hukum yg ada, terima kasih

  3. Emang apa bedanya punya sim hasil nembak dg “damai” pas ditilang,,,
    Sama-sama nyuap kann? sama-sama ga jelas masuk kantongnya siapa bukaaaannnn???

    • Pelajar di bawah 18 tahun tergolong anak, sanksi nya berupa hukuman disiplin spt: nyanyi lagu kebangsaan, push up, baca pancasila dll

  4. Sya mau tanya saya kena tilang tapi polisi trsbt mlah langsung bilang ke saya bahwa kna tilang satu juta rupiah, pdhl yg saya dengar2 paling besar hanya 250 ribu rupiah
    Mohon sarannya, knpa saya bisa smpai 1 jta rupah sdngkn yg lain 250 ribu pdhl sma2 ga punya sim
    Trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s