Jika Konflik Dijadikan Bahan Jualan, Apakah Ini Disebut Pembodohan?

Foto Tawuran, Sumber : http://www.edukasi.kompasiana.com

Setiap hari saya memang selalu pulang agak larut. Ya.. sekitar jam 22.00 – 23.00. Ini memang karena jam kerja saya yang menuntut saya untuk pulang agak larut. Setelah sampai dirumah, setelah ganti baju, makan dan sedikit berbincang dengan istri jika dia belum tidur, biasanya saya melanjutkan untuk menonton siaran televisi. Namun  beberapa tahun terakhir ini saya sudah jenuh dengan isi berita yang isinya secara garis besar adalah konflik. Entah itu konflik perebutan hak, konflik antar warga, atau konflik rumah tangga yang berujung dengan kekerasan sampai pembunuhan.

Oke. Itu adalah berita. Yang selalu berusaha secara jujur menyampaikan apa yang terjadi kepada masyarakat luas. Namun, bagaimana jika konflik dijadikan bahan jualan? Ya, dijual untuk di konsumsi masyarakat tanpa ada batasan umur. Mempertontonkan konflik, kebencian, pertikaian, arogansi dan sikap sikap yang jelas tidak layak di jadikan bahan konsumsi.

Sebut saja acara dua stasiun televisi nasional berjudul Penghuni Terakhir dan Big Brother Indonesia yang sengaja mengumpulkan orang dalam satu rumah untuk membuat konflik, persaingan, kebencian, egoisme dan sikap lainnya. Memang salah satu acara tersebut sudah pernah tayang di stasiun TV luar negeri. Tapi yang perlu diingat, mindset masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat diluar sana. Masyarakat kita dengan kondisi seperti sekarang ini, menjadikan televisi satu-satunya hiburan yang tidak perlu mengeluarkan biaya dan akhirnya mempengaruhi pola pikir mereka.

Dua diantara banyak acara televisi yang menjual konflik

Apa yang ditayangkan dua stasiun televisi itu memang tidak berbeda dengan sinetron yang menjamur di hampir seluruh stasiun televisi. Sampai sampai film berkualitas harus mengalah untuk tayang lewat tengah malam. Sinetron yang kebayakan menjual konflik murahan, cinta monyet, dan harta benda bisa membuat pola pikir masayarakat kita menjadi tidak logis. Ya, mereka termakan tayangan pembodohan yang terus-terusan diputar setiap hari. Seperti saya tulis dulu di artikel saya yang lalu, tayangan ini akhirnya menembus alam bawah sadar masyarakat kita dan akhirnya membuat prilaku masyarakat kita-pun menjadi tidak logis. Lihat saja, konflik yang terjadi di masyarakat. Apa tak ada lagi yang mampu menjual sinetron berkualitas macam Si Doel Anak Sekolahan atau Keluarga Cemara?

Si Doel Anak Sekolahan

Belum lagi acara macam Termehek-mehek yang pernah diputar di salah satu stasiun televisi yang menayangkan masalah pribadi orang untuk dijadikan konsumsi. Ok, setiap orang punya masalah. Namun apakah masalah macam perselingkuhan harus diumbar ke masyarakat untuk di pertontonkan?

Cukup sampai disitu? TIDAK! Tengok sebagian film produksi Indonesia yang menjual pocong dan perempuan seksi sebagai pemerannya. Belum lagi yang baru-baru ini terjadi konflik artis dalam sebuah syuting film malah di blow-up untuk menaikan rating film itu sendiri. Apakah tidak ada lagi anak bangsa yang kreatif yang tidak hanya mengangkat pocong dan perempuan sebagai bahan jualan? Sebegitu rendahkah iman masyarakat kita sehingga harus dikuasai setan? Sebegitu rendahkah wanita sehingga seharus selalu dijadikan simbol seks? TIDAK!

Setan lagi.. Perempuan lagi..

Tengok diluar sana, film kolosal yang tidak main main dalam pembuatannya. Apakah kisah Majapahit tidak bisa dijadikan film berkualitas? Atau kisah perebutan kemerdekaan negara kita? Apakah harus menunggu Hollywood menjadikannya film? Apakah kita baru merasa dirampas setelah Hollywood menjualnya sebagai film berkualitas? Dulu memang ada film yang mengangkat sejarah negara kita. Tapi kini, apakah anak-anak kita mau menontonnya?

Salah satu film favorit saya yang membuka mata saya tentang kejamnya perang.

Atas alasan tersebut saya akhirnya memutuskan untuk memasang TV Cable dirumah saya. Bukan sombong, namun saya tidak mau anak saya nantinya menonton tayangan murahan ini. Lebih baik dia menonton acara macam National Geographic, Discovery Channel, Star World atau bahkan Disney Channel. Namun, tidak semua masyarakat kita mampu atau bisa untuk memasang TV Cable dirumahnya. Entah karena tidak mampu atau memang daerahnya belum bisa dipasangi jaringan TV Cable. Berarti mereka tidak punya pilihan lain selain menonton konflik yang di perjualbelikan. Sampai kapan?

Stasiun TV favorit saya

Ini seharusnya menjadi PR bagi pemerintah untuk semakin memperketat pengawasan terhadap acara TV. Kasihan jika anak-anak kita yang seharusnya alam bawah sadarnya banyak dimasuki oleh hal-hal positif malah di cekoki konflik setiap hari. Apalah arti huruf D (Dewasa) atau BO (Bimbingan Orang Tua), wong orang tuanya juga kadang sudah terpengaruh kok.. Ingat, tayangan tersebut justru banyak diputar pada saat anak kecil belum tidur. Sekitar sore hari atau jam premiere sekitar pukul 19.00 sampai 21.00. (*)

Iklan

36 thoughts on “Jika Konflik Dijadikan Bahan Jualan, Apakah Ini Disebut Pembodohan?

    • betul kisanak…
      oleh karena itu kalo batre remote abis jangan di ganti…
      install applikasi di hape aja buat remote tivi xixixixixi biar tidak di kuasai 😆

  1. hm…produser film di mari itu kunci nya…dan ini lah yg mbuat pola pikir masyarakat jd KOPLAK, konflik mulu yg disajikan…

  2. konflik itu yang bikin cerita menarik. tidak ada cerita tanpa konflik. bahkan dalam film percintaan konflik selalu muncul. dimanapun pasti ada konflik. kehidupan nyata maupun maya.

    tawuran=konflik
    berantem=konflik
    perang dingin = konflik
    perang mulut = konflik
    bahkan beda pendapat = konflik

    hanya bobotnya saja yang berbeda. dan kemasannya.

  3. Udah jarang banget nonton tv. Pengen nonton berita, kebanyakan beritanya monoton,didramatisir dan kelakuan penyiar2nya sering norak bin lebay. Mending internetan aja. Ya ngga bro? :mrgreen:
    Btw, miniseri the pacific banyak adegan esek2nya juga ya. Sangat disayangkan. Kesannya sengaja dibuat supaya keliatan lebih jelek dibanding band of brothers. IMHO CMIIW

  4. emang bener…..sekarang ni susah sekali kalo kita mo menonton tayangan yang berkualitas di tv terutama dari stasiun tv nasional, karen nyaris semua stasiun tv menjual konflik dan gosip murahan sebagai dagangan utamanya. tapi ingat om….tayangan seperti ntu nyang laris di tonton pemirsa kita ( indikatornya rating acara tsb tinggi) makanya….kalo kita pengen acara seperti itu ga ada lagi .sebetulnya bisa…..caranya kita ajak keluarga kita untuk bisa selektif dalam memelilh acara tv, dan tinggalkan acara tv murahan kayak sinetron yang hanya menjual gosip, perselingkuhan dan hal negatip lainnya….apakah bisa? mari kita coba…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s