Siapa Gerombolan Itu?

Sabtu, malam Minggu kemarin, saya bersama sahabat saya yang juga rekan kerja saya di BikersGuide Magazine, memutuskan untuk berkeliling Jakarta. Selain dia memang harus mengantar pulang pacarnya yang tinggal di Halim, kami memang sudah lama tidak riding tengah malam berdua.

Setelah janjian di Plaza Semanggi, saya mengikuti dia terlebih dahulu mengantar kekasihnya pulang. Perjalanan cukup lancar, karena saat itu sudah pukul 01.00 pagi. Ternyata tak langsung pulang, kami menyempatkan mampir dulu di Mc Donald PGC untuk mengisi perut. Obrolan seru seputar transportasi massal sampai tsunami di Jepang pun mengalir deras. Terlebih lagi obrolan seputar bisnis kami, membuat kami lupa waktu.

Robbyn isi bensin di Shell Gatot Subroto

Namun tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi, akhirnya kami memutuskan untuk langsung mengantar pacar sahabat saya ke Halim. Tak berlama lama di Halim, kami pun langsung berencana melanjutkan perjalanan untuk menjelajahi Jakarta.

Selapas Halim, kami naik ke fly over UKI dan langsung mengarah ke arah Jalan Garot Subroto. Namun ketika kami melewati SPBU Shell, kami melihat gerombolan motor berjumlah sangat banyak. Mungkin sekitar 300 – 400 motor memenuhi seluruh badan jalan Gatot Subroto. Sangat berantakan sehingga mobil pribadi saja tidak diberikan jalur untuk lewat. Gerombolan itu penuh dengan alay jalanan.

Sejenak kami tidak sadar siapa mereka. Sehingga dengan penuh percaya diri, kami masuk ke dalam gerombolan itu. Kami mengambil jalur paling kanan, sambil sedikit memberikan klakson. Namun apa yang terjadi, ketika kami meminta jalan, mereka malah menantang kami dengan menggeber-geber knalpot dan menggunting jalur kami. Menggunting dengan tidak wajar dan sangat berbahaya. Berkali kali saya harus melakukan manuver berbahaya juga untuk menghindar.

Sekilas saya tersadar, apakah ini geng motor? begitu saya terfikirkan oleh hal itu, rasa takut langsung menjalar di tubuh saya. Bagaimana tidak takut, saya berada di tengah-tengah 400 motor! Akhirnya saya memilih mengalah, saya yang malam itu penuh dengan atribut lenong E450 dan E21, memilih berjalan di jalur kiri dengan pelan. Namun Robbyn yang tidak menggunakan box, gampang untuk selap-selip, sehingga jarak kami menjauh.

Di perempatan Pancoran, hal konyol terjadi. Saat lampu hijau, mereka malah berhenti di tengah-tengah perempatan. Sehingga saya tidak memiliki celah sama sekali untuk jalan. Saya sempat berfikir untuk mendahuli mereka dari jalur busway. Namun, untuk jalan ke jalur kanan saja sudah sangat sulit.

Ketika lampu berubah merah, mereka justru baru menjalankan kendaraannya. Robbyn ternyata menunggu saya di depan lampu merah tersebut. Dan kami memilih jalan di jalur kiri dengan perlahan bersama seorang bapak yang tampaknya juga baru saja pulang kerja. Kami yang kini ada di belakang mereka, cuma bisa geleng-geleng kepala saja. Sambil menetralkan diri dari rasa takut.

Gerombolan itu akhirnya berbelok ke arah Mampang dan mengambil jalur kiri ke arah Warung Buncit. Saya yang akan mengarah ke Blok M, menyempatkan diri mangambil foto mereka dengan ponsel saya dari atas fly over Mampang. Namun apa daya, selain fotonya jelek, saya hanya mendapatkan buntut dari gerombolan ini. Sayang sekali, tak satu-pun aparat kepolisian tampak di jalanan untuk mentertibkan mereka.

Nampak di kejauhan, buntut gerombolan ini saja. Mereka menuju arah Jalan Warung Buncit. Perkiraan jumlah gerombolan ini sekitar 400 motor lebih. Foto ini diambil sekitar pukul 03.00 pagi.

Setelah melihat jam, akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Selain sudah terlalu pagi, kami juga sudah kehilangan semangat untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya kami langsung mengarah ke Pondok Indah, Ciputat, dan akhirnya berpisah di sebuah warung rokok langganan kami di Pamulang. (*)

Iklan

19 thoughts on “Siapa Gerombolan Itu?

  1. Sya dengar dari teman saya yg pulang kerja shift malam, mereka akan melakukan penyerangan ke genk mtor lain di daerah cikarang di daerah cikarang-lemah abang, bekasi. Biasalah genk alay bri**s lawan x** terlihat dari atributnya, kata temen saya

  2. biarin aja bro…. namanya juga anak muda… toh dr ratusan rider tsb ada penanggung jawabnya kok…jika terjadi apa2. Y-Gen bukan geng dan mereka gak akan usil kalo tidak di usili duluan. dan mereka masih positif thinking jalan rombongan dini hari / pagi biar gak nambah kemacetan jalan…coba kalo siang ? trus biasanya orang yg jam segitu masih kelayapan,juga kebanyakan orang yg nyari senang2 khan? mending gabung aja sekalian hahahah…. Y-Gen Surabaya.

  3. Wow…selamat,anda telah bertemu Y-Gen,gmna rasanya sob?pasti terasa darah ilang dari badan y 🙂 ,dulu mereka biasa ngetem di monas jam 2 mlem,itu juga waktu tertentu saja.kyknya mrk skrg lebih kalem di bnding dulu,tp biar gmana pun jgn sampe nyolek ato bersenggolan dgn mereka,atau helm (minimal) motor (midle) nyawa (maksimal) yg hilang 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s