Journey to Ujung Genteng

We are BikersGuide family

Sebenarnya ini adalah kisah perjalanan yang sudah lama terjadi. Namun, baru sekarang saya sempat menuliskan cerita perjalanannya di blog saya. Perjalanan Jakarta – Cipanas – Sukabumi – Ujung Genteng ini dilaksanakan pada tanggal 6 – 10 Februari 2010 yang lalu. Tak hanya itu, dalam perjalanan yang sebenarnya untuk membicarakan rencana pernikahan saya dengan orang tua pacar saya, saya juga mengajak sahabat saya, Robbyn, dan kekasihnya. Saya tetap setia mengendarai Si Biru saya, dan Robbyn dengan Bajaj Pulsar-nya.
Hari ke-1

Perjalanan di mulai dari rumah saya di Pamulang. Setelah menunggu Robbyn yang datang terlambat 1 jam, kami berangkat pukul 09.00. Rute pertama adalah Cipanas. Dari rumah saya di Komp. Permata Pamulang, kami melintas Jalan Raya Puspitek kemudian melintasi daerah Gunung Sindur yang sampai sekarang heran, kenapa dinamakan Gunung Sindur, padahal tidak ada gunung disana. Rute ini sebenarnya adalah rute memotong. Ujung dari rute ini anda akan keluar di Jalan Raya Parung, tepatnya di Pasar Parung.

Di dekat Pasar Parung kami sempat kehausan, karena memang cuaca saat itu sangat panas terik. Kami beristirahat di Alfamart. Membeli beberapa minuman, air mineral untuk disimpan, dan kebutuhan lainnya yang belum sempat dibeli kemarin. Dan harap maklum jika perjalanan ini banyak memakan waktu untuk istirahat. Karena diperjalanan ini kami mebawa 2 orang wanita.

Perjalanan kami lanjutkan setelah berisitirahat sekitar 10 menit. Sesampainya di Bogor, kami langsung mencari Masjid untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at. Saat saya dan Robbyn menunaikan ibadah sholat Jum’at, para wanita menunggu giliran untuk Sholat Dzuhur. Setelah Sholat, kami berencana mengisi perut di sebuah warung nasi Padang di depan Mesjid tersebut. Karena saat itu jam makan siang, kami makan dengan karyawan kantoran disekitar dan Polisi Lalu Lintas.

Robbyn & Indah

Setelah mengisi perut, kamu melanjutkan perjalanan ke Cipanas – Puncak. Disini kami tidak bermaksud untuk menginap, melainkan menghadiri acara reuni pacar saya. Dari Bogor kami berniat melewati Jalan Raya Puncak. Namun karena kepadatan lalu lintas disana, kami memutar balik dan melintasi jalur alternatif menuju Puncak. Jangan tanya saya apa nama jalannya. Saya hanya mengikuti feeling saya dan petunjuk jalan. Ujung dari jalur alternatif ini adalah pasar yang berada di Jalan Raya Puncak.

Awal perjalanan di rute alternatif ini awalnya sangat menyenangkan. Rute belokan ekstrim dengan tanjakan ekstrim dan suasana pedesaan. Namun setelah hampir 20 menit melintas kemacetan di jalur kecil ini mulai terasa. Lengkap sudah, tanjakan curam, tikungan tajam, plus macet tak bergerak membuat Si Biru mengalami overheat. Mesin benar benar tersiksa disini. Berhenti dan jalan merayap di tanjakan dengan kapasitas tail box dan side box berlebih benar-benar membuat si Biru stress.

Pamer Paha : PAdat MERayap tanPA HArapan

Ternyata bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini. Sebuah sepeda motor ber-plat B dan beberapa mobil juga mengalami hal serupa, overheat. Terpaksa saya harus mendorong motor di tanjakan dengan dibantu Robbyn tentunya. Para kekasih kami suruh untuk berjalan kaki sampai menemukan tempat yang bisa dipakai untuk beristirahat. Sambil mendinginkan mesin dan memeriksa jikalau ada kerusakan mesin, kami juga berisitirahat sambil menikmati teh botol.

Sekitar pukul 15.00, setelah cukup berisitrahat, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Puncak Pass. Setelah masuk kembali ke Jalan raya Pucak, masalah kembali terjadi. Kali ini masalah pada tromol rem Bajaj Pulsar milik Robbyn. Roda belakang Pulsar ini goyang dan tidak stabil. Langsung saja, kami mencari bengkel terdekat untuk mencoba memperbaiki-nya. Dasar wanita, saat kami mengurus Pulsar dan mencoba mengecek semua perlengkapan, mereka malah menikmati bakso.

Setelah Pulsar kembali normal, kami melanjutkan perjalanan, namun tak jauh berjalan, hujan pun turun. Tidak deras memang namun cukup membuat cuaca menjadi sangat dingin. Tikungan demi tikungan kami lewati dengan hati hati. Kepadatan lalu intas-pun menghilang ketika kami melewati masjid At Taun. Tak lama kemudian kami-pun sampai di sebuah Wisma milik Departemen Sosial Pukul 17.00. Icha agak terlambat karena acara hampir selesai.

Selesai beberapa jam Icha bercengkrama dengan beberapa temannya, kami-pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Sukabumi malam itu juga. Cuaca masih sedikit gerimis. Dan dingin terasa sangat menusuk. Kondisi lalu litas dalam status ramai lancar. Sebelum masuk rute menuju Sukabumi, kami sempat mampir untuk makan malam. Namun, pada makan malam kali ini, rider berusaha tidak makan terlalu kenyang karena di khawatirkan akan mengantuk ketika berkendara.

Pukul 21.00. Dari Puncak, setelah melewati perempatan Ciawi, kami langsung berbelok menuju Kota Sukabumi. Namun tak berapa lama berjalan, Pulsar milik Robbyn kembali bermasalah. Terpaksalah kami berhenti di sebuah Indomaret di daerah Lido. Utak atik dan utak atik, permasalahan tak kunjung selesai. Tromol yang nyaris tak bisa berputar, berkali kali di kencangkan dan di kendorkan. Sehingga kami memutuskan untuk mencari bengkel.

Utak atik tanpa akhir

Setelah beberapa saat mencari bengkel, akhirnya kami menemukan sebuah bengkel, Ketika tromol dibongkar, masalah  pun terjawab. Bibir tromol bagian dalam pecah karena tidak ada bearing/klaher-nya. Usut punya usut, ternyata bengkel yang mencoba memperbaiki motor milik Robbyn saat di Puncak kemungkinan besar lupa memasang bearing/klaher saat memperbaiki.

Namun kekecewaan membesar saat bengkel ini mengatakan tidak mungkin lagi untuk memperbaiki tromol malam ini. Pertama, sudah tidak ada toko yang buka untuk menjual bearing/klaher. Kedua, sudah tidak ada tukang las yang buka.

Setelah berunding, akhirnya kami memutuskan, Robbyn menginap di Lido dan melanjutkan perjalanan besok setelah Pulsar-nya diperbaiki, dan saya meneruskan perjalanan ke Sukabumi karena terlanjur janji dengan calon mertua untuk tiba malam ini.
Karena malam sudah sangat larut, saya langsung berfokus untuk sampai ke tujuan. Awalnya saya berfikir untuk beristirahat satu kali lagi dijalan. Namun ketika saya melintasi Jalan Raya  Sukabumi lewat tengah malam, saya agak terkejut karena jalan raya benar-benar lengang! Tetap berkonsentrasi dan menjaga kecepatan di kisaran 70 km/jam akhirnya rute Lido Sukabumi bisa saya capai hanya dalam waktu 1 jam lebih sedikit.
Akhirnya, sekitar pukul 2 pagi, saya tiba di Baros, Sukabumi, tempat orang tua pacar saya. Sedikit berbincang dengan orang tua yang saat itu masih berstatus calon mertua, tak lama akhirnya saya bisa merebahkan badan juga. Yang terbayang di kepala saya sebelum tidur adalah, rencana yang pasti menyenangkan esok hari.

Hari ke-2

Terbangun karena suara henpon saya berbunyi sekitar pukul 11.30. Dengan nyawa yang masih berada di bantal, saya mendengar suara diseberang sana, “Woy, tidur mlulu lu, motor gw udah mau kelar nih, nanti kalo udah deket Sukabumi gw telpon ya..” Ternyata Robbyn memastikan kalau motornya sudah mau selesai. Tak lama Robbyn menelpon, suara gemuruh mulai terdengar, dan hujan-pun turun. Karena saya tau orang tua pacar saya bekerja semua, saya pun kembali membaringkan badan. Terbangun setengah jam kemudian karena mendengar suara bocah-bocah kecil. Ternyata adik-adiknya Icha baru saja pulang sekolah. Sebuah tanda bahwa saya harus BANGUN!

Setelah mandi, makan siang dan sholat, saya pun mengelus si Biru. Bermaksud hanya mengelap saja, tapi apa daya, karena melihat bentuk motor yang kotor seperti traktor sawah, saya mengurungkan niat tersebut. Dan akhirnya sekitar pukul 15.00, henpon saya berbunyi, “Dikit lagi gue sampee, jemput yeee!”

Saya menjemput Robbyn di sebuah warung es kelapa di Kota Sukabumi. Baru saja saya menikmati segelas es kelapa, Robbyn-pun datang. Tak perlu berlama-lama, saya segera mengajak Robbyn untuk kembali ke rumah Icha dan beristirahat. Sudah bisa di tebak, begitu sampai ke Baros dan memarkir Pulsar-nya Robbyn langsung merebahkan badannya di kamar saya.

Pukul 19.00 Setelah Sholat Magrib, kami berencana jalan jalan malam di sekitaran Kota Sukabumi untuk mencari makan malam dan merasakan riding di Kota ini. Pilihan tempat jatuh ke warung tenda seafood dan serabi di dekat Supermarket Tiara, yaitu tempat kopi darat TC Chapter Sukabumi.

SUrabi atau SErabi?

Ketika selesai makan, ada kejadian kecil yang cukup menarik perhatian. Yaitu mobil Patko Polres setempat bersenggolan dengan sebuah sepeda motor. Saya menghampiri tempat kejadian dan memperhatikan perdebatan antara petugas Polisi dan pengguna motor ini. Sang Polisi yang masi berpangkat ‘muda’ ini panik karena mobil Ford-nya yang masih sangat baru lecet tersenggol motor. Sedangkan pengendara motor yang merasa orang tuanya memilik jabatan di salah satu Polres di Pulau Jawa ngotot tidak bersalah.
Hal ini membuat saya tertawa, hari gini masih bawa-bawa jabatan?! Spontan saya coba bicara dengan pengendara motor tersebut. Saya mencoba memberitahukan bahwa dijaman sekarang ini, main beking-bekingan sudah tidak jamannya lagi.

Saya juga memberi tahu, bahwa dari cerita kedua belah pihak, saya menyimpulkan kesalahan ada di pengendara motor. Pengendara motor ini tidak menyalakan sein saat berbelok dan akhirnya tersenggol mobil Polisi yang sedang manjalankan tugas. Sang Polisi yang sedang bertugas itu pun juga saya ajak bicara, bahwa beliau tidak perlu takut dengan ancaman seperti itu. Jika beliau menjalankan tugas dengan benar, apa yang perlu ditakutkan? Dan ‘hiburan’ malam itu berakhir dengan pemeriksaan surat-surat kendaraan milik pengendara motor tersebut. Ternyata, pengendara tersebut tidak memilik SIM. Demikian tugas saya, urusan SIM biar bapak Polisi yang memiliki wewenang.

Malam semakin larut, namun sebelum pulang, kami sempat mampir ke tempat kopi darat dari Sukabumi Tiger Club yang berdekatan dengan Kantor Polres Sukabumi. Mereka menyambut kedatangan kami dengan ramah. Sempat ngobrol sebantar dan berfoto, akhirnya kami pamit pulang.

Sukabumi Tiger Club

Pada rute pulang menuju Baros kami melewati rute yang tidak biasa. Memotong jalan dan akhirnya tembus di Jalan Pelabuan dan masuk ke Jalan Lingkar Selatan dan kembali ke jalur biasanya. Yaitu Jalan Baros. Ada yang unik ketika melintas di Jalan Lingkar Selatan. Kalau biasanya saya sering menonton mobil mobil mewah melakukan slalom, atau bahasa gaulnya nge-drift, di Pondok Indah, kali ini saya menyaksikan angkot-angkot gaul yang nge-drift. Amazing! Karena angkot ini bukan sekedar nge-drift. tapi modifikasi mereka yang tidak saya temui di Jakarta. Mulai dari permainan cutting stiker, wide body sampai audio. Gila!

Setelah puas menonton pertunjukan gratis, kami memutuskan untuk pulang ke rumah Icha. Sesampainya disana, para wanita memutuskan untuk langsung tidur. Tetapi para pria masih mau menikmati sebatang (sampai berbatang-batang) rokok dan kopi sambil membicarakan rencana esok hari. Sampai akhirnya keheningan Perumahan Baros Permai memanggil kami untuk berisitrahat. Akhirnya, kami memutuskan untuk beristirahat tidur. Menyiapkan tenaga dan mental. Karena petualangan sesungguhnya baru akan dimulai besok!

Hari ke-3

Bangun di pagi hari. Sungguh sejuk suasana Baros. Membuat badan ini malas bergerak. Namun tetap memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, agar bisa menikmati Sukabumi dengan waktu yang lebih panjang. Bergegas mandi, menikmati sepiring nasi goreng hangat dan menge-cek kesiapan kendaraan untuk jalan-jalan hari ini. Rencana perjalanan hari ini adalah mengunjungi Pondok Halimun dan mencoba menjelajah sampai terjun Curug Cibereum di kaki gunung Gede Pangrango.

Kami berangkat menuju Pondo Halimun sekitar pukul 10.00 dan tiba disana sekitar pukul 11.00 kurang. Pemandangan menuju Pondok Halimun sangat indah. Walau aspal disini tak seindah pemandangannya. Di sebelah kanan terlihat hamparan kebun teh dan bukit di sebelah kiri. Udara-pun sangat sejuk disini, karena tak banyak pemukiman dan kendaraan disini. Tak seperti wilayah puncak yang sudah terlalu padat.

Pohonnya kok ditebangin ya?

Ketika sampai, kami langsung memarkir motor kami. Tak sulit mencari parkir disini, karena tempat yang tersedia sangat banyak. Pemandangan pertama yang kami lihat adalah jejeran warung kopi dan jagung bakar. Dan ada beberapa keluarga dan kelompok bikers yang juga berwisata kesini. Sesaat selelah itu kami pun mampir kesalah satu warung untuk memesan minuman hangat dan mencoba bertanya kepada warga setempat tentang jalan menuju air terjun.

Suasana Pondok Halimun

Jagung Bakar yummy!

Akhirnya, perjalanan menuju air terjun-pun di mulai. Kami memasuki kawasan Gunung Gede Pangrango dengan melewati kantor pengawas Gunung Gede. Lalu mulai memasuki jalan setapak. Suasana yang kami rasakan pertama adalah suasana hening dengan gemerecik air dari sungai kecil. Karena sungai sebening ini tidak pernah saya temukan di Jakarta, saya menyempatkan diri untuk sedikit bermain air. Dan ternyata, dingin…. brrrr… Melanjutkan perjalanan, kami melewati sebuah lapangan luas dengan semak belukar disekitarnya. Suasana seperti inilah yang kami harapkan. Tapi, semakin jauh berjalan, perjalanan menjadi semakin curam dan gelap. Karena pohon pohon tinggi semakin banyak di kiri dan kanan kami.

Pintu Masuk Gede Pangrango

Jalan Cinta.. Halah..

Sungguh romantis.. 😛

Di tengah kebun

Semakin dalam, semakin gelap

Petunjuk Jalan

huff.. huff.. cape...

Setelah kurang lebih 45 menit berjalan kaki, akhirnya kami mulai mendengar gemuruh air terjun di kejauhan. Tanda bahwa kami sudah semaiki dekat. Benar saja, akhirnya kami-pun tiba di tujuan. Begitu bahagianya dan puas ketika kami sampai di tujuan. Sejenak kami duduk sebentar dan menikmati secangkir kopi hangat. Kopi? ya.. ada seorang pedagang kopi disini.

wow.. wow.. dingin disini...

Karena waktu sudah sore dan tampaknya cuaca mulai tidak bersahabat, akhirnya setelah puas bermain air dan berfoto, kami memutuskan untuk turun. Namun kali ini rute yang kami pilih berbeda. Dipandu oleh petugas kehutanan yang kami temui dijalan, kami melewati jalan pintas melalui hamparan kebun teh. Tak lama, gerimis pun turun, kabut mulai naik. Saya berfikir dalam hati saya, “Asyik, ini yang gw cari..”

Jalan setapak di tengah kebun teh

Gerbang menuju Pondok Halimun

Perjalanan turun lebih singkat, sekitar 30 menit. Sesampainya di bawah, kami menyempatkan diri menikmati jagung bakar, kopi dan gorengan. Dengan baju agak lembab karena gerimis tentunya. Entah kenapa, jagung-jagung tersebut terasa begiiituuuuu nikmat. Kopi panas-pun tak terasa panas. Kesimpulan kami, kami sangat merekomendasikan Pondok Halimun dan Curug Cibereum bagi anda yang menginginkan petualangan kecil.

Waktu telah menunjukkan pukul 17.00. Saatnya untuk pulang. Jujur saja, saya sangat menikmati setiap perjalanan di Kota Sukabumi. Alasannya, pertama, nyaris tidak ada macet disini. Kedua, jalanan disini lebar. Ketiga, bentuk tata kota yang menyenangkan. namun ada satu yang kemanapun saya pergi, tetap menjadi musuh besar saya. Angkot. Kami menyempatkan makan malam di sebuah rumah makan Padang di Kota Sukabumi. Tak lama setelah makan, kami memutuskan untuk langsung pulang. Karena hari ini benar benar melelahkan. Dan entah kenapa, begitu sampai di rumah Icha, pinggang saya baru merasakan pegal yang teramat dalam. Ngilu dimana-mana. Mungkin karena saya tidak di kodratkan menjadi pendaki gunung. Salut untuk para pendaki gunung.

Sambil menahan pegal dan ngilu, sejenak saya dan Robbyn membicarakan rencana esok hari dengan secangkir teh hangat dan rokok. Para wanita pun sibuk mem-packing. Setelah keputusan akan rute jalan dan  seluruh barang sudah siap di packing, kecuali baju ganti besok dan alat mandi, kami memutuskan untuk ber istirahat, walau jam masih menunjukkan pukul 22.00. Masih sore bagi saya. Tapi apa daya, perjalanan menuju air terjun Curug Cibereum benar-benar menguras energi saya…. zzz

Hari ke-4

THIS IS THE DAY!!! Bangun pukul 08.00 dengan berjuta semangat. Kenapa? karena hari ini adalah hari dimana kami akan menuju pantai Ujung Genteng. Packing malam tadi dilanjutkan dan para pria mulai memasukkan barang barang di dalam box. Sedikit memeriksa kesiapan motor, mulai dari kelistrikan, kaki-kaki sampai surat-surat. Tak lupa apparel yang digunakan. Walau bukan apparel mahal, namun standar Helm SNI, jacket, sarung tangan, sampai sepatu kami pastikan siap.

Indah & Robbyn

Icha & Igfar

Pukul 11.00 Setelah memastikan semuanya siap, akhirnya kami berpamitan dengan keluarganya Icha. Dan langsung memulai perjalanan. Namun, tak lama melakukan perjalanan perut mulai keroncongan. Pas sekali ketika kami melewati rumah makan Ampera. Langsung berbelok, dengan sein tentunya, dan mulai memesan makanan.
Setelah makan, saya sempat ngobrol dengan petugas parkir setempat tentang rute menuju Ujung Genteng. Beliau memberi tahu rute alternatif selain jalur Cibadak yang padat kendaraan. Ia menawarkan rute Cikembar yang lebih bersahabat. Dan setelah berunding dengan Robbyn, akhirnya kami memutuskkan untuk mencoba menjelajahi rute ini.

Rute Cikembar cenderung sepi dan lancar. Sesekali ada saja truk bermuatan barang dan angkutan umum. Namun situasi lalin cenderum sepi. Sempat berhenti di sebuah POM Bensin untuk beristirahat dan mengisi sedikit Premium. Lalu melanjutkan perjalanan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 namun perjalanan masih jauh. Sempat ragu untuk meneurkan perjalanan, dengan maksud merubah rute ke Pelabuhanratu. Namun Robbyn dengan tegas berkata, “udah tanggung bro, terusin aja”. Tapi kami menyempatkan diri untuk berfoto di sebuah jalan yang dari jalan tersebut kami bisa melihat pelabuhanratu dan lautnya.

Rumah Makan Ampera yang juga ada di Jakarta

Yummy!

Rute jalan Cikembar

Istirahat sejanak

Pelabuhanratu & Lautnya

Icha bergaya besama Si Biru

Akhirnya, kami memasuki kawasan Pasir Piring. Rute disini agak seram, perjalanan penuh tikungan, tanpa perumahan warga disekitarnya. Konon, menurut warga sekitar, di wilayah ini sering terjadi perampokan. Maka pada saat kami melintas, seorang tua mengendarai bebek meminta mengikuti kami berdua karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Langit sudah mulai gelap. Suasana jalan sangat lengang. begitu juga di kiri kanan kami. Yang ada hanya kabut dan pohon-pohon tinggi.

Kawasan Pasir Piring

Menantang untuk di jelajahi

Sekitar pukul 18.30, setelah melintasi Pasir Piring, kami mulai masuk ke wilayah yang berpenduduk. Kami menyempatkan diri beristirahat di sebuah Indomaret. Dan mengecek perlengkapan beserta kesiapan motor. Kami juga bertanya kepada penduduk sekitar, berapa lama lagi waktu tempuh menuju Ujung Genteng. Mereka menjawab, sekitar 2 jam lagi. Oke, akhirnya kami meneruskan perjalanan. Dijalan yang saya lupa namanya ini, lalu lintas cukup ramai. Dan banyak pengendara motor asal-asalan. namun kami tetap menjaga kontrol kendaraan dan emosi.

Akhirnya, kami tiba di pintu masuk menuju Pantai Ujung Genteng. WOW! ternyata kami masih harus melintasi jalan sekitar 15-20 menit menuju pantai. Disini agak menyeramkan. Jalan lurus, tanpa penerangan dan tak ada rumah warga. Kalaupun ada, hanya berkumpul di satu titik. dan tersebar berjauhan.

Tak Lama, aroma khas laut mulai tercium. Dan suara deburan ombak mulai terdengar. Kami sampai di sebuah pertigaan yang benar benar di ujung Selatan Pulau Jawa. Rasa puas-pun terasa. akhirnya setelah perjalanan seharian, kami tiba di Pantai Ujung Genteng. Kami-pun segera mencari penginapan. Dan kami menemukan sebuah penginapan yang cukup bagus dan murah. Sebuah Cottage dua kamar dengan biaya 400 ribu per malam. Namun karena hari itu bukan musim libur, kami berhasil menawar harga tersebut hingga 250 ribu.

Langsung saja kami menitipkan motor pada pemilik Cottage dan menurunkan seluruh barang. Ketika kami sedang menurunkan barang pemilik Cottage menanyakan apakah kami mau memesan makanan, jika kami mau, pemilik Cottage bersedia memasak untuk kami. Namun beliau harus belanja dulu di pasar ikan. Tak masalah, kami memesan 2 ekor ikan bakar, sedikit sayuran dan nasi. Setelah bernegosiasi, kami-pun diantarkan ke kamar kami dan beliau pergi berbelanja.

Kami membagi kamar berdasarkan jenis kelamin. Hahaha.. iya lah.. agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. hahahaha.. Saya pun langsung menuju kamar mandi untuk mandi, agar badan saya sudah kucel tidak keruan hasil dari perjalanan panjang hari ini. Setelah membersihkan diri dan membereskan semua barang barang, kami memilih untuk duduk di teras sambil menunggu makanan. Benar saja, tak lama bapak pemilik Cottage segera datang dengan 2 ikan bakar, nasi hangat dan sedikit sayuran. Tak lupa sambel kecap-nya. Yummy…

Setelah makan, sang pemilik Cottage yang baik hati menawarkan kami untuk melihat penyu. Dengan senang hati, kami langsung meng-‘iya’-kan ajakan itu. Namun perjalanan menuju tempat penangkaran penyu harus melintasi jalanan dengan kondisi ajib. Mulai dari kering, berlumpur sampai tergenang air cukup dalam. Namun itu tak menurunkan semangat kami untuk menuju kesana. Setelah samapai, kami agak kecewa, karena menurut penjaga penangkaran penyu, hari itu sedang tidak ada anak penyu. Dan Penyu yang ingin bertelurpun belum satu-pun naik ke daratan. Walah.. tetapi sang penjaga menjelaskan, biasanya sekita pukul 1 – 2 pagi selalu ada saja penyu yang naik ke darat untuk bertelur. Setelah melihat jam, saat itu sekitar pukul 12 lewat, kami memutuskan untuk menunggu saja di pinggir pantai yang luas nan gelap gulita. Kami di larang menyalakan lampu, senter dan berisik selama di pantai itu. Karena cahaya dan suara biasa menakuti penyu untuk naik ke darat.

Peta petunjuk wilayah Taman Penyu

Foto ini diambil pukul 1 pagi dengan speed kamera sangat rendah. Tampak ada yang tidur dipantai. Mereka adalah petugas yang menunggu penyu naik ke darat.

Sekitar pukul 2 kurang, sang penjaga memanggil kami, Ia memberi tahu bahwa sedang ada penyu yang naik ke darat. Namun berita buruknya, Penyu itu ada di Pos 7, sedangkan kami sedang berada di Pos 2. Jarak antar Pos sekitar 300 – 500 meter. WAW! Berjalan di Pantai luas, bersih nan gelap memberikan pengalaman sendiri bagi kami. Langit cerah membuat cahaya bulan begitu terang memancarkan cahaya ke pasir pantai. Pasir tersebut juga tampak berkilau.

Setelah berjalan kaki cukup jauh, akhirnya kami bertemu sang Penyu. Ia sedang berjalan labat di pasir. Penjaga masih melarang kami untuk mendekat, karena dikhawatirkan akan menakuti penyu tersebut. Setelah sang penyu sampai, penyu tersebut mulai menggali, cukup lama sampai ia menggali lubang yang pas untuk bertelur. Kami pun setia menunggunya untuk menggali. Setelah sekitar 15 menit menggali, akhirnya penyu tersebut mulai mengeluarkan telur-telurnya. Banyak sekali.

Penjaga menjelaskan bahwa akhir ini banyak sekali terjadi pencurian telur telur penyu ini. Pelaku pencurian biasanya mencuri dari penyu yang sedang bertelur namun tidak terpantau petugas. Dan Ia juga sempat curhat bahwa perhatian pemerintah dirasa agak kurang untuk pelestarian penyu ini. Hmm.. bukan hanya penyu sih yang ga dapet perhatian 😛

Setelah segala ritual bertelur selesai, kini saatnya sesi foto. Hahahahaha.. kapan lagi bisa berfoto dengan penyu? Secara bergantian kami berfoto dengan penyu itu. Dengan bermacam macam gaya tentunya. Setelah lelah berfoto, akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang. Dan beristirahat karena besok kami akan melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta.

Penyu.. nyu.. nyu...

Yang mana penyunya?

Hari ke-5
Bangun cukup pagi, yaitu pukul 08.00, kami langsung bergegas menuju pantai dan bermain air. Pastinya sambil berfoto. Hahaha.. Setelah puas bermain air dan berfoto, kami-pun memutuskan untuk kembali ke cottage dan mandi. Lalu mempersiapkan seluruh perlengkapan pulang.

Beningnya...

Ikan ikan kecil berenang kesana kemari

alay.. -_-"

Pantai Ujung Genteng

Indah

Cottage kami

Sekitar pukul 14.00, kami-pun berangkat untuk pulang menuju Jakarta. Di dekat gerbang menuju Pantai Ujung Genteng, kami menyempatkan diri untuk berfoto. Setelah itu melanjutkan kembali perjalanan.

 

Gerbang masuk kawasan Pantai Ujung genteng

Bergaya di pinggir jalan

Perjalanan menuju Jakarta cukup menegangkan. Terutama di daerah sebelum Cibadak. Selain hujan, di jalur ini banyak sekali truk peti kemas, sehingga kami harus ekstra berhati hati. Namun karena hujan semakin deras, kami memutuskan untuk berteduh beberapa kali. Penyebabnya bukan karena kami tidak membawa jas hujan, melainkan karena saya berkacamata. Hujan cukup mengganggu pengelihatan saya. Karena kaca mata saya jadi ber-embun.
Setelah masuk ke jalan raya Sukabumi, lalu lintas sangat ramai. Dan sedikit macet di beberapa tempat. Namun kami tetap bersabar. Di Bogor, kami memutuskan berpisah. Robbyn menuju Halim melalui jalur Cibubur dan saya menuju Pamulang melalui jalur Jalan raya Parung. Entah jam berapa Robbyn sampai ke Halim, tetapi yang pasti dia selamat sampai tujuan. Dan saya sampai di Pamulang sekitar pukul 2 pagi.
Perjalanan jauh ini cukup melelahkan, tapi juga sangat menyenangkan bagi kami semua. Karena terlepas dari kesemerawutan Jakarta adalah hal yang jarang bisa kami dapatkan. Belajar dari pengalaman ini, kami memutuskan untuk pergi ke Pasir Putih di Lampung jika tidak ada halangan sekitar pertengahan tahun 2011. Semoga saja Tuhan memberikan kami kesehatan agar bisa sampai kesana. Amin.

Iklan

5 thoughts on “Journey to Ujung Genteng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s