Berpetualang Setiap Hari

Kalau sebagian orang memposting pengalaman turingnya, saya mencoba memposting rute perjalanan saya dari rumah menuju kantor yang biasa saya tempuh sekitar 1.5 sampai 2 jam dalam sekali jalan. Belum termasuk perjalanan pulang.

Saat ini saya tinggal di Legok, Tangerang. Tepatnya di Jalan Legok Raya – Caringin. Suatu daerah dimana jalananya dikuasai  truk 18 roda. Dan motor akan dengan sendirinya minggir apabila sang raksasa lewat. Daerah ini cukup jauh dari peradaban Jalan Raya Serpong. Dari jalan raya Serpong menuju Legok, masih harus ditempuh sekitar 30 sampai 40 menit.



Kenapa saya memilih Legok. Jawabannya sederhana. Karena istri saya bekerja disalah satu perusahaan ekspedisi disana. Dari pada dia harus naik turun angkutan umum, sayalah yang akhirnya memilih untuk berpetualang dari sana menuju Ibu Kota.

Di awal perjalanan, dan bukan di jalur truk, kita akan melihat indahnya kampung Legok. Masih ada sawah di kanan kiri jalan. Dan di kejauhan tampaklah sebuah gunung yang saya sendiri tidak tau namanya. Namun keindahan itu ga akan bisa dinikmati karena ketika melintas disana, pandangan anda akan tertuju pada aspal yang seperti berada di permukaan bulan.

Sawah Di Kiri dan Kanan

Setelah melintasi persawahan, kini saya melintasi sebuah jalan panjang yang di kanan kirinya tidak ada perumahan warga. Jalan ini juga tidak memiliki penerangan atau lampu disaat malam.

Tanpa Marka Jalan. Tanpa Penerangan Jalan, Jalan ini Memang Agak Horor

Sebenarnya untuk mempersingkat waktu, ada jalan alternatif. Jalan ini bisa memangkas waktu 15 sampai 20 menit. Namun jalan ini tidak bisa dilalui ketika hujan atau sesudah hujan.

Jalan Pintas

Setelah melewati rute tanpa penghuni, saya mulai masuk ke sebuah perumahan tanpa rumah. Maksudnya belum dibangun. Baru jalanannya saja yg di aspal. Itu pun kondisi aspalnya sudah keriting. Ketika melintas disini, kita bisa melihat pemandangan wisata danau Cihuni.

Disini Sering Ada Orang Pacaran

Setelah melewati tempat wisata danau tersebut, saya mulai memasuki wilayah pemukiman elit The Spring – Sumarecon. Dimana tempat ini adalah inspirasi, impian dan harapan saya dimasa depan. Aspal disini bagus. Namun ada beberapa titik yang aspalnya agak rusak dan banyak bercak tanah merah. Karena Proyek The Spring masih belum selesai. Jadi masih banyak truk besar yang lalu lalang.

Jalan Utama The Spring – Summarecon

Setelah melintasi The Spring, saya melewati jembatan yang memotong jalur sungai Cisadane. Sungai ini cukup besar. Begitu juga jembatannya. Dan lubang jalanannya tentunya.

Jembatan Summarecon
Sungai Cisadane

Setelah melewati jembatan Sungai Cisadane, barulah saya mulai masuk ke jalan raya Serpong. Dan masuk ke kawasan Alam Sutra. Sebagai jalan pintas saya menuju Bintaro sektor 9. Jujur saja, dari wilayah sini sampai sekitar wilayah sektor 9 saya ga tahu nama wilayahnya. Kecuali Graha Raya Bintaro.

Jalan Serpong Raya
Jalan Serpong Raya
Bunderan Alam Sutra

Dari kawasan Alam Sutra, saya melewati Pasar Segar yang berada di kawasan Graha Raya Bintaro. Kemudian melewati beberapa Pertokoan. Namun sebelum masuk ke kawasan Graha Bintaro, saya menemukan simbol cinta sejati di jalanan ini. Simbol yang mengungkapkan istilah ‘benci tapi rindu’. Simbol ini bukanlah apa apa.Melainkan mini market Indomart dengan AlfaMart. Di segi bisnis mereka bersaing. Tapi dimana yang satu ada, pasti disitu ada yang lainnya. Hahahaha. Lebay ya?

Benci tapi Rindu
Pasar Segar – Graha Bintaro

Setelah berjalan sekitar 10 menit sampailah ke sebuah jalan yang saya rasa agak unik. Di tiang listrik yang berada di sepanjang jalan ini, terpampang 99 Asmaul Husna atau nama nama Allah. Sambil berkendara, terkadang saya melirik Asmaul Husna yang terpajang disana. Kemudian tak lama saya melewati masjid Bani Umar. Dan akhirnya saya mulai mulai dekat dengan Bintaro Sektor 9. Tapi sebelumnya saya harus melewati Sekolah Global Jaya dan Sekolah Jepang. Dan juga melewati perempatan Jombang.

Salah satu Asmaul Husna
Masjid Bani Umar

Di perempatan Jombang, lalu lintas agak semrawut. Karena disini banyak orang yang tidak peduli dengan adanya lampu merah. Tapi saya selalu tetap berusaha sabar.

Perempatan Jombang
Perempatan Jombang

Setelah itu perjalanan mulai memasuki Bintaro Sektor 9. Jalan disini cukup besar dan nyaman. Namun perasaan itu segera hilang ketika saya memasuki bintaro sektor 5. Pekerjaan galian PLN sangat membuat tersiksa pengguna jalan disini. Belum lagi lubang besar yang dibuat tengah jalan tanpa pengaman jalan dan bekas galian yang ditutup dengan sangat tidak rapi.

Lubang Yang Cukup Dalam Tanpa Pengaman Yang Kokoh
Tambalan Aspal Yang Tidak Manusiawi
Off Road Ditengah Pemukiman Elit

Setelah menyiksa kendaraan saya di sektor 5, saya melewati Bintaro Plaza. Dan sampailah di perempatan Bintaro yang terkenal rusuh. Angkutan disini kadang memang menguji kesabaran saya. Belum lagi tingkah para akamsi (anak kampung sini) yang seenaknya menggunting lampu merah.

Perempatan Bintaro Plaza

Setelah melewati sektor 1, saya melewati pertigaan Organon. Organon sebenarnya adalah nama perusahaan yang terletak tepat di pertigaan itu. Pertigaan itu sebenarnya adalah pertigaan antara Jalan RC Veteran, Jalan Kesehatan Raya, dan Jalan Bintaro Raya. Di pertigaan ini, apabila kita datang dari Jalan Kesehatan dan kemudian ingin ke Jalan RC Veteran, harus belok dulu ke arah Jalan Bintaro Raya. Baru kita memutar balik ke arah Jalan RC Veteran. Karena dijalan ini tidak boleh langsung belok kanan. Tapi, yaaa namanya bikers Indonesia, Kadang ada yang merasa memiliki nyawa 9. Dan masa bodo dengan hak orang lain. Banyak sekali yang melanggar aturan itu.

Pertigaan Organon

Setelah masuk Jalan Bintaro Raya, saya melewati Makam Tanah Kusir. Di Tanah Kusir lah jasad Papa beristirahat untuk terakhir kalinya. hiks.. Nah, di jalur ini, tepatnya depang gerbang Makam Tanak Kusir, kendaraan yang menuju Ciputat Raya dari Jalan Bintaro Bintaro tidak boleh langsung lurus. Tapi jalur disini di putar melewati Jalan Bendi baru kembali lagi ke Jalan Bintaro Raya.

Depan Tanah Kusir. Arus Lalin Menuju Ciputat Raya Dialihkan Ke Jalan Bendi

Setelah melintasi Jalan Bintaro Raya, kini saatnya saya masuk ke Jalan Ciputat Raya dan masuk ke Jalan Arteri Pondok Indah dan kemudian melewati Gandaria City. Disekitar Gandaria City, saya menyimpan sedikit catatan. Di depan Gandaria City ada sebuah putaran balik satu arah bagi arus dari Permata Hijau yang ingin memutar. Namun putaran balik ini sering disalah gunakan orang untuk berbelok dari arah Arteri Pondok Indah ke arah Gandaria. Dan akhirnya Polisi menutup putaran balik ini. Saya pernah menegur pengendara Accord yang melawan arah di putaran balik ini. Dengan entengnya dia menjawab “saya ngikutin tukang parkirnya”. Ini membuktikan kadang otak orang kaya-pun nggak ubahnya otak manusia yang ga terdidik.

Arteri Pondok Indah – Gandaria City
Gara gara pelanggar aturan, Putaran ini ditutup.

Setelah melewati Gandaria City saya belok ke arah Pakubuwono. Namun saat berbelok saya harus berhati hati. Karena disini ada pertemuan dua arus dari bawah dan arus fly over yang datang dari arah Cileduk.

Jalur Sebelah Kanan datang dari Arah Cileduk

Tak Jauh dari situ saya memutar balik lagi ke arah Arteri Pondok Indah. Namun saya harus ambil jalur kiri. Karena saat berbelok ke arah Arteri, kantor saya tak jauh dari situ.

Jalur Kiri ke Pondok Indah, Kanan Ke Cileduk
Sampai Sudah Ke Kantor Tercinta

Dan Akhirnya saya tiba di gudang studio setelah hampir dua jam perjalanan. Minum airputih, langsung ke ruangan saya, menyalakan iMac dan bekerja. Ga lupa membeli cemilan untuk teman bekerja.

Jangan Lihat Dari Luarnya. Dulu Ini Bekas Gudang. Sekarang Anda Akan Menemukan Surga Di Dalamnya


Tinggal menyiapkan tenaga untuk pulang nanti malam.. hpppfff… turiiinngg!!!



Iklan

10 thoughts on “Berpetualang Setiap Hari

  1. Ping balik: My Style, my fashion.. | MotorBirunya Igfar

  2. Ping balik: Berpetualang Setiap Hari (Bagian 2) | MotorBirunya Igfar

  3. Ping balik: Dosaku Pada Si Biru | MotorBirunya Igfar

  4. Ping balik: Selamat Tinggal Legok | MotorBirunya Igfar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s