Ada kisah lama seorang teman yang menjual Yamaha Scorpio-nya dan menggantinya dengan sebuah Kawasaki Ninja 250. Uang yang di dapat dari penjualan Scorpio-nya digunakan sepenuhnya untuk membayar DP sang Ninja. Kemudian sang Ninja pun jadi miliknya dengan cicilan hampir menyentuh angka 1.7 juta perbulan.
Ia bukanlah orang kaya, namun Ia hanyalah seorang pekerja swasata dengan penghasilan kurang lebih 2.5 juta saja. Ketika saya tanya mengapa Ia nekat membeli motor yang cicilannya lebih dari separuh gajinya. Ia menjawab bahwa hal ini Ia lakukan selagi Ia bujangan dan belum memiliki tanggungan seperti saya. Jawaban standar seorang bujangan. Ya wajar memang jika kita mengejar sebuah impian dan sedikit nekat.
Namun tak berhenti di situ, perlahan Ia memodifikasi Ninja-nya dengan parts yang menurut saya harganya tak main-main. Knalpot saja bisa 2 juta? WOW! belum lagi parts lainnya. Dan itu semua belum termasuk biaya service yang juga tidak murah. Sehingga wajar saja saya sering mendengar dia bokek.. Hihihi..
Terkadang saya iri dengan keadaannya yang masih bujang dan mampu membeli segalanya tanpa memikirkan tanggungan hidup. Sampai sebuah kejadian menyadarkan saya.
Suatu hari saya mendapatkan kabar bahwa Ia mengalami kecelakaan parah, dan hampir saja kehilangan kakinya dan cidera cukup parah di bagian dada. Ia dirawat di sebuah Rumah sakit pemerintah di Jakarta. Yang mengejutkan, 5 hari saja di rumah sakit, Ia sudah harus merogoh kocek sebesar 20 juta! Sedangkan Ia dirawat sekitar 2 minggu. Dari mana Ia mendapatkan uang sebesar itu? Pastinya dari bantuan keluarga, kantor dan pinjam sana sini. Sedangkan Ninja impian-nya sudah hancur lebur.
Ayahnya hanya seorang pegawai negri biasa, sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Dan kakaknya juga hanya seorang ibu rumah tangga dari seorang suami yang hanya pegawai swasta biasa.
Dari sini saya tersadar, bahwa hidup bujang dan konsumtif tak selamanya menyenangkan. Terkadang kita silau dengan barang-barang keren yang ditawarkan di luar sana. Dan akhirnya kitapun memaksakan diri membeli barang barang tersebut hanya untuk sebuah status. Dua juta rupiah bukanlah nilai yang besar untuk mengejar status sosial.
Teman saya tidak memiliki asuransi untuk dirinya. Padahal jika ia mau, asuransi dengan premi terkecil 350 ribu saja, kita sudah mendapatkan biaya pertanggungan sampai 50 juta. Belum lagi santunan kematian untuk keluarga sampai 50 juta! Sehingga jika seorang kepala keluarga harus pergi meghadap Yang Maha Kuasa, setidaknya mereka meninggalkan bekal untuk keluarganya.
Mana lebih penting, mencicil motor baru senilai 800 ribu per bulan atau membayar asuransi senilai 350 ribu saja per bulan untuk sepuluh tahun? Dan ketika 10 tahun nanti, kita sudah bisa memetik manfaatnya?
Kebanyakan orang Indonesia akan memilih mencicil motor dengan berbagai alasan. Tidak sepenuhnya salah memang. Namun budaya konsumtif memiliki motor/mobil lebih dari kebutuhan kitalah yang perlu di batasi. Apalagi kita tahu, bahwa kendaraan bermotor adalah barang yang nilainya terus menurun. Sedangkan pada asuransi berlaku sebaliknya.
Ingat, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita tahun depan, bulan depan atau bahkan 3 jam nanti. Kita pun tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keluarga kita kelak. Apalagi jika saya membayangkan biaya kuliah si kecil kelak. WOW! Dan juga jika kita hanya seorang pegawai swasta yang mungkin tidak mendapatkan dana pensiun, kita harus memikirkan dana pensiun kita kelak. Agar di masa tua kita nanti, kita hanya tinggal menikmati hasil dari kerja keras di masa produktif seperti sekarang ini.
Maka dari itu, memproteksi keluarga dan menyiapkan masa depan keluarga jauh lebih penting dari sekedar membelanjakan uang untuk hal-hal yang konsumtif. Bagi saya yang berpenghasilan rata-rata, saya lebih memilih menggunakan uang saya untuk asuransi ketimbang mengganti si Biru dengan mencicil New Mega Pro atau CBR250. Memiliki si Biru saja sudah lebih dari cukup. Beda ceritanya jika saya berpenghasilan jauh diatas rata-rata. InsyaAllah..
Yuk kita kurangi sifat konsumtif, kita gunakan uang kita dengan bijak. (*)








jadi sadar diri… iya ya..
Seperti biasanya,,,, Nice share!
Saya memilih berusaha meningkatkan kualitas diri saya untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar lagi untuk memenuhi `standard minimal hidup` yang sudah saya targetkan (misalnya usia 30 punya motor, 35 punya mobil keluarga, 40 naik haji dll) … Keluarga sebagai yang utama, sosial masyarakat, karir, hobi semua harus balance
hmmm,,,,,, ceritanya kayak agen asuransi yak.. hehehe,,, but, nice story gan, buat renungan hidup..
Hihi.. sejauh ini gw belum berminat menjadi agen asuransi, Pi..
tapi alhamdullilah gw udah bikin asuransi..
untunglah berhasil beli ninja sebelum nikah…hehehe…
boncengi aku mas..
Single seater…dilas pula qeqeqe…
orientasi seseorang mmg kadang beda2x bro, tp kita ttp harus bs membedakan mana keinginan mana kebutuhan….nice share, bro
Kerja apa tuh mas kok ga ada asuransi dari kantornya, bahkan jamsostek jg ga ada?
Eniwe.. nice share.. gak salah sih dia beli ninja, krn kadang hidup harus berani mengambil resiko.. tapi ya jadi salah krn ninjanya trus di modip n buat kebut2an yg jadi menghancurkan dirinya sendiri..
Yah itulah Indonesia…status ato pengakuan dari lingkungan sekitar adalah segalanya. Yah contohnya yang itu tuh…produknya baru diluncurin tapi yang inden bejibun…
keinginan diatas kebutuhan.. IMO, kesalahan yg fatal
Bau2 anjuran untuk ikut asuransi hehe
Satu hal yg menjadi pondasi hidup belum tertulis.
Sholat 5 waktu,mohon ampunan,minta pertolongan dan perlindungan, insyaAllah hidup tentram
waduh… semua biaya bisa buat beli er6…
Asuransi yg bgs apa mas bro?
wewww…lom kepikiran asuransi
ini aja nyicil bebek om
emang masih bujangan itu enak, tapi karena udah ada keinginan buat berbagi hati dan jiwa *halah* jadinya lumayan bisa direm konsumerisme terkait kebujanganan ini
nice share dan masuk akal
keep brotherhood,
salam,
itulah nafsu & gengsi menjadi 1….
Entah bagaimana ini semua bermula, rakyat di negeri ini skrg senang hanya sekedar menikmati daripada memproduksi.
Asuransikan jiwa Anda hanya kepd Allah SWT
begitulah, syukuri aj yg kita raih hari ini.. mngkin lebih baik punya motor biasa tp hati tenang dan bahagia karena gak mikir nyicil..
betul bro.. makasih udah mampir..
benar2 tulisan yang menginspirasi
makasih sudah mampir bro..
sama2 bro, mampir2 juga di blog sayah
pasti bro.. kadang2 saya juga mampir kok..